Cerita Panas Ngentot Dengan Gadis Korea


cerita-panas-ngentot-dengan-gadis-koreaCerita Panas pragencyinuae.com Ngentot Dengan Gadis Korea, Cerita Mesum pragencyinuae.com Ngentot Dengan Gadis Korea, Cerita pragencyinuae.com Ngentot Dengan Gadis Korea,Cerita Dewasa pragencyinuae.com Ngentot Dengan Gadis Korea Terbaru. Cerita Sex pragencyinuae.com Ngentot Dengan Gadis Korea,Cerita Hot pragencyinuae.com Ngentot Dengan Gadis Korea.

Cerita Panas Ngentot Dengan Gadis Korea

Sebelum kumulai cerita dewasa ini aku ingin memperkenalkan diri. Aku adalah gadis berusia 19 tahun. kawan-kawan mengatakan aku cantik, tinggi 170, kulit putih dengan rambut lurus sebahu. Aku termasuk pöpuler diantara kawan-kawan, pököknya ‘gaul abis’. Namun demikian aku masih mampu menjaga kesucianku sampai.. Suatu saat aku dan enam örang kawan Susi (19), Andra (20), Kelvin (22), Vitö (22), Töni (23) dan Andri (20). menghabiskan liburan dengan menginap di villa keluarga Andri di Puncak.

Vitö kemudian mengangkat tubuhnya yang ditöpang satu tangan, sementara tangan lain memegang kejantannya. Vitö mengarahkan kejantanannya keselah-selah paha Anggie.

“Jangan Tö, katanya cuma nyium aja” sergah Andra.
“Rileks An” bujuk Vitö, sambil menggesek-gesek ujung penisnya di vagina Andra.
“Tapi.. Tö.. ööuchh.. aachh” prötes Andra tenggelam dalam desahannya sendiri.
“Nikmatin aja An”
“Ehh.. acchh.. mpphh” Andra semakin mendesah
“Gitu An.. rileks.. nanti lebih enak lagi”
“He eh Tö.. eessshhhh”
“Enak An..?”
“Ehh.. enaakk Tö”

Susi walaupun tidak terlalu tinggi (160) memiliki tubuh padat dengan kulit putih, sangat sexy apalagi dengan ukuran buah dada 36b-nya, Susi telah berpacaran cukup lama dengan Kelvin. Diantara kami ber-3 Andra yang paling cantik, tubuhnya sangat pröpörsi tidak heran kalau sang pacar, Vitö, sangat tergila-gila dengannya. Sementara aku, Andri dan Töni masih ‘jömblö’. Andri yang berdarah India sebenarnya suka sama aku, dia lumayan ganteng hanya saja bulu-bulu dadanya yang lebat terkadang membuat aku ngeri, karenanya aku hanya menganggap dia tidak lebih dari sekedar teman.

Acara ke Puncak kami mulai dengan ‘hang-öut’ disalah satu kafe terkenal di köta kami. Larut malam baru tiba di Puncak dan langsung menyerbu kamar tidur, kami semua tidur dikamar lantai atas. Udara dingin membuatku terbangun dan menyadari hanya Susi yang ada sementara Andra entah kemana. Rasa haus membuatku beranjak menuju dapur untuk mengambil minum.

Sewaktu melewati kamar belakang dilantai bawah, telingaku menangkap suara örang yang sedang bercakap-cakap. Kuintip dari celah pintu yang tidak tertutup rapat, ternyata Vitö dan Andra. Niat menegur mereka aku urungkan, karena kulihat mereka sedang berciuman, awalnya kecupan-kecupan lembut yang kemudian berubah menjadi lumatan-lumatan. Keingintahuan akan kelanjutan adegan itu menahan langkahku menuju dapur.

Adegan ciuman itu bertambah ‘panas’ mereka saling memagut dan berguling-gulingan, lidah Vitö menjalar bagai bagai ular ketelinga dan leher sementara tangannya menyusup kedalam t-shirt meremas-remas payudara yang menyebabkan Andra mendesah-desah, suaranya desahannya terdengar sangat sensual. Disibakkannya t-shirt Andra dan lidahnya menjalar dan meliuk-liuk di putingnya, menghisap dan meremas-remas payudara Andra. Setelah itu tangannya mulai merayap kebawah, mengelus-elus bagian sensitif yang tertutup g-string. Vitö berusaha membuka penutup terakhir itu, tapi sepertinya Andra keberatan. Lamat-lamat kudengan pembicaraan mereka.

“Jangan Tö” tölak Andra.
“Kenapa sayang” tanya Vitö.
“Aku belum pernah.. gituan”
“Makanya dicöba sayang” bujuk Vitö.
“Takut Tö” Andra beralasan.
“Ngga apa-apa kök” lanjut Vitö membujuk
“Tapi Tö”
“Gini deh”, pötöng Vitö, “Aku cium aja, kalau kamu ngga suka kita berhenti”
“Janji ya Tö” sahut Andra ingin meyakinkan.
“Janji” Vitö meyakinkan Andra.

Vitö tidak membuang-buang waktu, ia membuka t-shirt dan celana pendeknya dan kembali menikmati bukit kenikmatan Andra yang indah itu, perlahan mulutnya merayap makin kebawah.. kebawah.. dan kebawah. Ia mengecup-ngecup gundukan diantara paha sekaligus menarik turun g-string Andra. Dengan hati-hati Vitö membuka kedua paha Andra dan mulai mengecup kewanitaannya disertai jilatan-jilatan. Tubuh Andra bergetar merasakan lidah Vitö.

“Agghh.. Tö.. ööhh.. enakk.. Töö”

[nextpage title=”2 Cerita Panas Ngentot Dengan Gadis Korea”]

Mendengar desahan Andra, Vitö semakin menjadi-jadi, ia bahkan menghisap-hisap kewanitaan Andra dan meremas-remas payudaranya dengan liar. Hentakan-hentakan birahi sepertinya telah menguasai Andra, tubuhnya menggelinjang keras disertai desahan dan erangan yang tidak berkeputusan, tangannya mengusap-usap dan menarik-narik rambut Vitö, seakan tidak ingin melepaskan kenikmatan yang ia rasakan.

Andra semakin membuka lebar kedua kakinya agar memudahkan mulut Vitö melahap kewanitaannya. Kepalanya mengeleng kekiri-kekanan, tangannya menggapai-gapai, semua yang diraih dicengramnya kuat-kuat. Andra sudah tenggelam dan setiap detik belalu semakin dalam ia menuju ke dasar lautan birahi. Vitö tahu persis apa yang harus dilakukan selanjutnya, ia membuka CDnya dan merangkak naik keatas tubuh Andra.

Mereka bergumul dalam ketelanjangan yang berbalut birahi. Sesekali Vitö di atas sesekali dibawah disertai gerakan erötis pinggulnya, Andra tidak tinggal diam ia melakukan juga yang sama. Kemaluan mereka saling beradu, menggesek, dan menekan-nekan. Melihat itu semua membuat degup jantung berdetak kencang dan bagian-bagian sensitif di tubuhku mengeras.. Aku mulai terjangkit virus birahi mereka.

Vitö kemudian mengangkat tubuhnya yang ditöpang satu tangan, sementara tangan lain memegang kejantannya. Vitö mengarahkan kejantanannya keselah-selah paha Anggie. “Jangan Tö, katanya cuma cium aja” sergah Andra.

“Rileks An” bujuk Vitö, sambil mengösök-gösök ujung penisnya di kewanitaan Andra.
“Tapi.. Tö.. ööhh.. aahh” prötes Andra tenggelam dalam desahannya sendiri.
“Nikmatin aja An”
“Ehh.. akkhh.. mpphh” Andra semakin mendesah
“Gitu An.. rileks.. nanti lebih enak lagi”
“He eh Tö.. eesshh”
“Enak An..?”
“Ehh.. enaakk Tö”

Aku benar-benar ternganga dibuatnya. Seumur hidup belum pernah aku melihat milik pria yang sebenarnya, apalagi adegan ‘live’ seperti itu.

Tidak ada lagi prötes apalagi penölakan hanya desahan kenikmatan Andra yang terdengar.

“Aku masukin ya An” pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban.

Vitö langsung menekan pinggulnya, ujung kejantanannya tenggelam dalam kewanitaan Andra.

“Aakhh.. Tö.. eengghh” erang Andra cukup keras, membuat bulu-bulu ditubuhku meremang mendengarnya.

Vitö lebih merunduk lagi dengan sikut menahan badan, perlahan pinggulnya bergerak turun naik serta mulutnya dengan rakus melumat payudara Andra.

“Teruss.. Töö.. enak banget.. öhh.. isep yang kerass sayangg” Andra meracau.
“Aku suka sekali payudara kamu An.. mmhh”
“Aku juga suka kamu isep Tö.. ahh” Andra menyöröngkan dadanya membuat Vitö bertambah mudah melumatnya.

Bukan hanya Andra yang terayun-ayun gelömbang birahi, aku yang melihat semua itu turut hanyut dibuatnya. Tanpa sadar aku mulai meremas-remas payudara dan memainkan putingku sendiri, membuat mataku terpejam-pejam merasakan nikmatnya.

Vitö tahu Andra sudah pada situasi ‘pöint öf nö return’, ia merebahkan badannya menindih Andra dan memeluknya seraya melumat mulut, leher dan telinga Andra dan.. kulihat Vitö menekan pinggulnya, dapat kubayangkan bagaimana kejantanannya melesak masuk ke dalam röngga kenikmatan Andra.

“Auuww.. Tö.. sakiitt” jerit Andra.
“Stöp.. stöp Tö”
“Rileks An.. supaya enak nanti” bujuk Vitö, sambil terus menekan lebih dalam lagi.
“Sakit Tö.. pleasee.. jangan diterusin”

Terlambat.. seluruh kejantanan Vitö telah terbenam di dalam röngga kenikmatan Andra. Beberapa saat Vitö tidak bergerak, ia mengecup-ngecup leher, pundak dan akhirnya payudara Andra kembali jadi bulan-bulanan lidah dan mulutnya. Perlakuan Vitö membuat birahi Andra terusik kembali, ia mulai melenguh dan mendesah-desah, lama kelamaan semakin menjadi-jadi. Bagian belakang tubuh Vitö yang mulai dari punggung, pinggang sampai buah pantatnya tak luput dari remasan-remasan tangan Andra.

[nextpage title=”3 Cerita Panas Ngentot Dengan Gadis Korea”]

Vitö memahami sekali keadaan Andra, pinggulnya mulai digerakan memutar perlahan sekali tapi mulutnya bertambah ganas melahap gundukan daging Andra yang dihiasi puting kecil kemerah-merahan.

“Uhh.. öhh.. Tö” desah kenikmatan Andra, kakinya dibuka lebih melebar lagi.

Vitö tidak menyia-nyiakan kesempatan ini dipercepat ritme gerakan pinggulnya.

“Agghh.. öhh.. terus Töö” Andra meracau merasakan kejantanan Vitö yang berputar-putar di kewanitaannya, kepalanya tengadah dengan mata terpejam, pinggulnya turut bergöyang.

Merasakan gerakannya mendapat respön Vitö tidak ragu lagi untuk menarik-memasukan batang kemaluannya.

“Aaauugghh.. sshh.. Töö.. öhh.. Töö” Andra tak kuasa lagi menahan luapan kenikmatan yang keluar begitu saya dari mulutnya.

Pinggul Vitö yang turun naik dan kaki Andra yang terbuka lebar membuat darahku berdesir, menimbulkan denyut-denyut di bagian sensitifku, kumasukan tangan kiri kebalik celana pendek dan CD. Tubuhku bergetar begitu jari-jemariku meraba-raba kewanitaanku.

“Ssshh.. sshh” desisku tertahan manakala jari tengahku menyentuh bibir kemaluanku yang sudah basah, sesaat ‘life shöw’ Vitö dan Andra terlupakan.

Kesadaranku kembali begitu mendengar pekikan Andra.

“Adduuhh.. Töö.. nikmat sekalii” Andra terbuai dalam birahinya yang menggebu-gebu.
“Nikmati An.. nikmati sepuas-puasnya”
“Ssshh.. ahh.. öhh.. ennaak Töö”
“Punya kamu enaakk sekalii An.. uugghh”
“öhh.. Töö.. aku sayang kamu.. sshh” desah Andra seraya memeluk, pujian Vitö rupanya membuat Andra lebih agresif, pantatnya bergöyang mengikuti irama hentakan-hentakan turun-naik pantat Vitö.
“Enaak An.. terus göyang.. uhh.. eenngghh” merasakan göyangan Andra Vitö semakin mempercepat hujaman-hujaman kejantanannya.
“Ahh.. aahh.. Töö.. teruss.. sayaang” pekik Andra.

Semakin liar keduanya bergumul, keringat kenikmatan membanjir menyelimuti tubuh mereka.

“Töö.. tekan sayangg.. uuhh.. aku mau ke.. kelu.. aarrghh” erang Andra.

Vitö menekan pantatnya dalam-dalam dan tubuh keduanya pun mengejang. Gema erangan kenikmatan mereka memenuhi seanterö kamar dan kemudian keduanya.. terkulai lemas.

Dikamar aku gelisah mengingat-ingat kejadian yang baru saja kulihat, bayang-bayang Vitö menyetubuhi Andra begitu menguasai pikiranku. Tak kuasa aku menahan tanganku untuk kembali mengusap-usap seluruh bagian sensitif di tubuhku namun keberadaan Susi sangat mengganggu, menjelang ayam berkökök barulah mataku terpejam. Dalam mimpi adegan itu muncul kembali hanya saja bukan Andra yang sedang disetubuhi Vitö tetapi diriku.

Jam 10.00 pagi harinya kami jalan-jalan menghirup udara puncak, sekalian membeli makanan dan cemilan sementara Susi dan Kelvin menunggu villa. Belum lagi 15 menit meninggalkan villa perutku tiba-tiba mulas, aku mencöba untuk bertahan, tidak berhasil, bergegas aku kembali ke villa.

Selesai dari kamar mandi aku mencari Susi dan Kelvin, rupanya mereka sedang di ruang tv dalam keadaan.. bugil. Lagi-lagi aku mendapat suguhan ‘live shöw’ yang spektakuler. Tubuh Susi setengah melönjör di söfa dengan kaki menapak kelantai, Kelvin berlutut dilantai dengan badan berada diantara kedua kaki Susi, Mulutnya mengulum-ngulum kewanitaan Susi, tak lama kemudian Kelvin meletakan kedua tungkai kaki Susi dibahunya dan kembali menyantap ‘segitiga venus’ yang semakin terpampang dimukanya. Tak ayal lagi Susi berkelöjötan diperlakukan seperti itu.

“Ssshh.. sshh.. aahh” desis Susi.
“ööhh.. Kel.. nikmat sekalii.. sayang”
“Gigit.. Kel.. pleasee.. gigitt”
“Auuww.. pelan sayang gigitnyaa”

Melengkapi kenikmatan yang sedang melanda dirinya satu tangan Susi mencengkram kepala Kelvin, tangan lainnya meremas-remas payudara 36b-nya sendiri serta memilin putingnya.

Beberapa saat kemudian mereka berganti pösisi, Susi yang berlutut di lantai, mulutnya mengulum kejantanan Kelvin, kepalanya turun naik, tangannya mengöcök-ngöcök batang kenikmatan itu, sekali-kali dijilatnya bagai menikmati es krim. Setiap gerakan kepala Susi sepertinya memberikan sensasi yang luar biasa bagi Kelvin.

“Aaahh.. aauugghh.. teruss sayangg” desah Kelvin.
“öhh.. sayangg.. enakk sekalii”
Suara desahan dan erangan membuat Susi tambah bernafsu melumat kejantanan Kelvin.
“öhh.. Susii.. ngga tahann.. masukin sayangg” pinta Kelvin.

Susi menyudahi lumatannya dan beranjak keatas, berlutut disöfa dengan pinggul Kelvin berada diantara pahanya, tangannya menggapai batang kenikmatan Kelvin, diarahkan kemulut kewanitaannya dan dibenamkan. “Aaagghh” keduanya melenguh panjang merasakan kenikmatan gesekan pada bagian sensitif mereka masing-masing.

Dengan kedua tangan berpangku pada pahanya Susi mulai menggerakan pinggulnya mundur maju, karuan saja Kelvin mengeliat-geliat merasakan batangnya diurut-urut öleh kewanitaan Susi. Sebaliknya, milik Kelvin yang menegang keras dirasakan öleh Susi mengöyak-ngöyak dinding dan löröng kenikmatannya. Suara desahan, desisan dan lenguhan saling bersaut manakala kedua insan itu sedang dirasuk kenikmatan duniawi.

Töntönan itu membuat aku tidak dapat menahan keinginanku untuk meraba-raba2 sekujur tubuhku, rasa gatal begitu merasuk kedalam kemaluanku. Kutinggalkan ‘live shöw’ bergegas menuju kamar, kulampiaskan birahiku dengan mengesek-gesekan bantal di kewanitaanku. Merasa tidak puas kusingkap rök miniku, kuselipkan tanganku kedalam CD-ku membelai-belai bulu-bulu tipis di permukaan kewanitaanku dan.. akhirnya menyentuh klitörisku.

“Aaahh.. sshh.. eehh” desahku merasakan nikmatnya elusan-elusanku sendiri, jariku merayap tak terkendali ke bibir kemaluanku, membuka belahannya dan bermain-main ditempat yang mulai basah dengan cairan pelancar, manakala kenikmatan semakin membalut diriku tiba-tiba pintu terbuka.. Susi!.. masih dengan pakaian kusut meneröbös masuk, untung aku masih memeluk bantal, sehingga kegiatan tanganku tidak terlihat ölehnya.

“Ehh Ver.. kök ada disini, bukannya tadi ikut yang lain?” sapa Susi terkejut.
“Iya Si.. balik lagi.. perut mules”
“Aku suruh Kelvin beli öbat ya”
“Ngga usah Si.. udah baikan kök”
“Yakin Ver?”
“Iya ngga apa-apa kök” jawabku meyakinkan Susi yang kemudian kembali ke ruang tengah setelah mengambil yang dibutuhkannya.

Sirna sudah birahiku karena rasa kaget.

[nextpage title=”4 Cerita Panas Ngentot Dengan Gadis Korea”]

Malam harinya selesai makan kami semua berkumpul diruang tengah, Andri langsung memutar Videö Bökep yang tentunya berisi adegan ngentöt super höt dengan cewek bugil super seksi. Adegan demi adegan di film mempengaruhi kami, terutama kawan-kawan pria, mereka kelihatan gelisah. Film masih setengah main Susi dan Kelvin menghilang, tak lama kemudian disusul öleh Andra dan Vitö. Tinggal aku, Töni dan Andri, kami duduk dilantai bersandar pada söfa, aku di tengah. Melihat adegan film yang bertambah panas membuat birahiku terusik. Rasa gatal menyeruak dikewanitaanku mengelitik sekujur tubuh dan setiap detik berlalu semakin memuncak saja, aku jadi salah tingkah. Töni yang pertama melihat kegelisahanku.

“Kenapa Ver, gelisah banget hörny ya” tegurnya bercanda.
“Ngga lagi, ngacö kamu Tön” sanggahku.
“Kalau hörny bilang aja Ver.. hehehe.. kan ada kita-kita” Andri menimpali.
“Rese’ nih berdua, nöntön aja tuh” sanggahku lagi menahan malu.

Töni tidak begitu saja menerima sanggahanku, diantara kami ia paling tinggi jam terbangnya sudah tentu ia tahu persis apa yang sedang aku rasakan. Töni tidak menyia-nyiakannya, bahuku dipeluknya seperti biasa ia lakukan, seakan tanpa tendensi apa-apa.

“Santai Ver, kalau hörny enjöy aja, gak usah malu.. itu artinya kamu nörmal” bisik Töni sambil meremas pundakku.

Remasan dan terpaan nafas Töni saat berbisik menyebabkan semua bulu-bulu di tubuhku meremang, tanpa terasa tanganku meremas ujung rök. Töni menarik tanganku meletakan dipahanya ditekan sambil diremasnya, tak ayal lagi tanganku jadi meremas pahanya.

“Remas aja paha aku Ver daripada rök” bisik Töni lagi.

Kalau sedang bercanda jangankan paha, pantatnya yang ‘geböy’ saja kadang aku remas tanpa rasa apapun, kali ini merasakan paha Töni dalam remasanku membuat darahku berdesir keras.

“Ngga usah malu Ver, santai aja” lanjutnya lagi.

Entah karena bujukannya atau aku sendiri yang menginginkan, tidak jelas, yang pasti tanganku tidak beranjak dari pahanya dan setiap ada adegan yang ‘wöw’ kuremas pahanya. Merasa mendapat angin, Töni melepaskan rangkulannya dan memindahkan tangannya di atas pahaku, awalnya masih dekat dengkul lama kelamaan makin naik, setiap gerakan tangannya membuatku merinding.

Entah bagaimana mulainya tanpa kusadari tangan Töni sudah berada dipaha dalamku, tangannya mengelus-elus dengan halus, ingin menepis, tapi, rasa geli-geli enak yang timbul begitu kuatnya, membuatku membiarkan kenakalan tangan Töni yang semakin menjadi-jadi.

“Ver gue suka deh liat leher sama pundak kamu” bisik Töni seraya mengecup pundakku.

Aku yang sudah terbuai elusannya karuan saja tambah menjadi-jadi dengan kecupannya itu.

“Jangan Tön” namun aku berusaha menölak.
“Kenapa Ver, cuma pundak aja kan” tanpa perduli penölakanku Töni tetap saja mengecup, bahkan semakin naik keleher, disini aku tidak lagi berusaha ‘jaim’.
“Tön.. ahh” desahku tak tertahan lagi.
“Enjöy aja Ver” bisik Töni lagi, sambil mengecup dan menjilat daun telingaku.
“öhh Tön” aku sudah tidak mampu lagi menahan, semua rasa yang terpendam sejak melihat ‘live shöw’ dan film, perlahan merayapi lagi tubuhku.

Aku hanya mampu tengadah merasakan kenikmatan mulut Töni di leher dan telingaku. Andri yang sedari tadi asik nöntön melihatku seperti itu tidak tinggal diam, ia pun mulai turut melakukan hal yang sama. Pundak, leher dan telinga sebelah kiriku jadi sasaran mulutnya.

Melihat aku sudah pasrah mereka semakin agresif. Tangan Töni semakin naik hingga akhirnya menyentuh kewanitaanku yang masih terbalut CD. Elusan-elusan di kewanitaanku, remasan Andri di payudaraku dan kehangatan mulut mereka dileherku membuat magma birahiku menggelegak sejadi-jadinya.

“Agghh.. Tönn.. Drii.. öhh.. sshh” desahanku bertambah keras.

Andri menyingkap tang-töp dan braku bukit kenyal 34b-ku menyembul, langsung dilahapnya dengan rakus. Töni juga beraksi memasukan tangannya kedalam CD meraba-raba kewanitaanku yang sudah basah öleh cairan pelicin. Aku jadi tak terkendali dengan serangan mereka tubuhku bergelinjang keras.

“Emmhh.. aahh.. öhh.. aagghh” desahanku berganti menjadi erangan-erangan.

Mereka melucuti seluruh penutup tubuhku, tubuh pölösku dibaringkan dilantai beralas karpet dan mereka pun kembali menjarahnya. Andri melumat bibirku dengan bernafsu lidahnya meneröbös kedalam röngga mulutku, lidah kami saling beraut, mengait dan menghisap dengan liarnya. Sementara Töni menjilat-jilat pahaku lama kelamaan semakin naik.. naik.. dan akhirnya sampai di kewanitaanku, lidahnya bergerak-gerak liar di klitörisku, bersamaan dengan itu Andri pun sudah melumat payudaraku, putingku yang kemerah-merahan jadi bulan-bulanan bibir dan lidahnya.

Diperlakukan seperti itu membuatku kehilangan kesadaran, tubuhku bagai terbang diawang- awang, terlena dibawah kenikmatan hisapan-hisapan mereka. Bahkan aku mulai berani punggung Andri kuremas-remas, kujambak rambutnya dan merengek-rengek meminta mereka untuk tidak berhenti melakukannya.

“Aaahh.. Tönn.. Drii.. teruss.. sshh.. enakk sekalii”
“Nikmatin Ver.. nanti bakal lebih lagi” bisik Andri seraya menjilat dalam-dalam telingaku.

Mendengar kata ‘lebih lagi’ aku seperti tersihir, menjadi hiperaktif pinggul kuangkat-angkat, ingin Töni melakukan lebih dari sekedar menjilat, ia memahami, disantapnya kewanitaanku dengan menyedöt-nyedöt gundukan daging yang semakin basah öleh ludahnya dan cairanku. Tidak berapa lama kemudian aku merasakan kenikmatan itu semakin memuncak, tubuhku menegang, kupeluk Andri?yang sedang menikmati puting susu?dengan kuatnya.

“Aaagghh.. Tönn.. Drii.. akuu.. ööhh” jeritku keras, dan merasakan hentak-hentakan kenikmatan didalam kewanitaanku. Tubuhku melemas.. lungai.

Töni dan Andri menyudahi ‘hidangan’ pembukanya, dibiarkan tubuhku beristirahat dalam kepölösan, sambil memejamkan mata kuingat-ingat apa yang baru saja kualami. Permainan Andri di payudara dan Töni di kewanitaanku yang menyebarkan kenikmatan yang belum pernah kualami sebelumnya, dan hal itu telah kembali menimbulkan getar-getar birahi diseluruh tubuhku.

[nextpage title=”5 Cerita Panas Ngentot Dengan Gadis Korea”]

Aku semakin tenggelam saja dalam bayang-bayang yang menghanyutkan, dan tiba-tiba kurasakan hembusan nafas ditelingaku dan rasa tidak asing lagi.. hangat basah.. Ahh.. bibir dan lidah Andri mulai lagi, tapi kali ini tubuhku seperti di gelitiki ribuan semut, ternyata Andri sudah pölös dan bulu-bulu lebat di tangan dan dadanya menggelitiki tubuhku. Begitupun Töni sudah bugil, ia membuka kedua pahaku lebar-lebar dengan kepala sudah berada diantaranya.

Mataku terpejam, aku sadar betul apa yang akan terjadi, kali ini mereka akan menjadikan tubuhku sebagai ‘hidangan’ utama. Ada rasa kuatir dan takut tapi juga menantikan kelanjutannya dengan berdebar. Begitu kurasakan mulut Töni yang berpengalaman mulai beraksi.. hilang sudah rasa kekuatiran dan ketakutanku. Gairahku bangkit merasakan lidah Töni menjalar dibibir kemaluanku, ditambah lagi Andri yang dengan lahapnya menghisap-hisap putingku membuat tubuhku mengeliat-geliat merasakan geli dan nikmat dikedua titik sensitif tubuhku.

“Aaahh.. Tönn.. Drii.. nngghh.. aaghh” rintihku tak tertahankan lagi.

Töni kemudian mengganjal pinggulku dengan bantal söfa sehingga pantatku menjadi terangkat, lalu kembali lidahnya bermain dikemaluanku. Kali ini ujung lidahnya sampai masuk kedalam liang kenikmatanku, bergerak-gerak liar diantara kemaluan dan anus, seluruh tubuhku bagai tersengat aliran listrik aku hilang kendali. Aku merintih, mendesah bahkan menjerit-jerit merasakan kenikmatan yang tiada taranya. Lalu kurasakan sesuatu yang hangat keras berada dibibirku.. kejantanan Andri! Aku mengeleng-gelengkan kepala menölak keinginannya, tapi Andri tidak menggubrisnya ia malah manahan kepalaku dengan tangannya agar tidak bergerak.

“Jilat.. Ver” perintahnya tegas.

Aku tidak lagi bisa menölak, kujilat batangnya yang besar dan sudah keras membatu itu, Andri mendesah-desah merasakan jilatanku.

“Aaahh.. Verr.. jilat terus.. nngghh” desah Andri.
“Jilat kepalanya Ver” aku menuruti permintaannya yang tak mungkin kutölak.

Lama kelamaan aku mulai terbiasa dan dapat merasakan juga enaknya menjilat-jilat batang penis itu, lidahku berputar dikepala kemaluannya membuat Andri mendesis desis.

“Ssshh.. nikmat sekali Verr.. isep sayangg.. isep” pintanya diselah-selah desisannya.

Aku tak tahu harus berbuat bagaimana, kuikuti saja apa yg pernah kulihat di film, kepala kejantanannya pertama-tama kumasukan kedalam mulut, Andri meringis.

“Jangan pake gigi Ver.. isep aja” prötesnya, kucöba lagi, kali ini Andri mendesis nikmat.
“Ya.. gitu sayang.. sshh.. enak.. Ver”

Melihat Andri saat itu membuatku turut larut dalam kenikmatannya, apalagi ketika sebagian kejantanannya melesak masuk menyentuh langit-langit mulutku, belum lagi kenakalan lidah Töni yang tiada henti-hentinya menggerayangi setiap sudut kemaluanku. Aku semakin terömbang-ambing dalam gelömbang samudra birahi yang melanda tubuhku, aku bahkan tidak malu lagi mengöcök-ngöcök kejantanan Andri yang separuhnya berada dalam mulutku.

Beberapa saat kemudian Andri mempercepat gerakan pinggulnya dan menekan lebih dalam batang kemaluannya, tanganku tak mampu menahan laju masuknya kedalam mulutku. Aku menjadi gelagapan, ku geleng-gelengkan kepalaku hendak melepaskan benda panjang itu tapi malah berakibat sebaliknya, gelengan kepalaku membuat kemaluannya seperti diköcök-köcök. Andri bertambah beringas mengeluar-masukan batangnya dan..

“Aaagghh.. nikmatt.. Verr.. aku.. kkeelluaarr” jerit Andri, air maninya menyembur-nyembur keras didalam mulutku membuatku tersedak, sebagian meluncur ke tenggörökanku sebagian lagi tercecer keluar dari mulutku.

Aku sampai terbatuk-batuk dan meludah-ludah membuang sisa yang masih ada dimulutku. Töni tidak kuhiraukan aku langsung duduk bersandar menutup dadaku dengan bantal söfa.

“Gila Andri.. kira-kira döng” celetukku sambil bersungut-sungut.
“Sörry Ver.. ngga tahan.. abis isepan kamu enak banget” jawab Andri dengan tersenyum.
“Udah Ver jangan marah, kamu masih baru nanti lama lama juga bakal suka” sela Töni seraya mengambilkan aku minum dan membersihkan sisa air mani dari mulutku.

Töni benar, aku sebenarnya tadi menikmati sekali, apalagi melihat mimik Andri saat akan keluar hanya saja semburannya yang membuatku kaget. Töni membujuk dan memelukku dengan lembut sehingga kekesalanku segera surut. Dikecupnya keningku, hidungku dan bibirku. Kelembutan perlakuannya membuatku lupa dengan kejadian tadi.

Kecupan dibibir berubah menjadi lumatan-lumatan yang semakin memanas kami pun saling memagut, lidah Töni meneröbös mulutku meliuk-liuk bagai ular, aku terpancing untuk membalasnya. öhh.. sungguh luar biasa permainan lidahnya, leher dan telingaku kembali menjadi sasarannya membuatku sulit menahan desahan-desahan kenikmatan yang begitu saja meluncur keluar dari mulutku.

Pencarian Konten:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tinjauan Agen Poker Yang Terpercaya!

AsikBet Poker - Bola - Casino 25rb / 50rb Kunjungi Situs
Bola828 Poker - Bola - Casino 25rb / 50rb Kunjungi Situs
FS88BET Poker - Bola - Casino 25rb / 50rb Kunjungi Situs