Cerita Dewasa Istriku Yang Aku Sayangi


Cerita Dewasa Cerita Dewasa Sex, Cerita Dewasa Istriku Yang Aku Sayangi Foto – Foto Bugil Terbaru, dan Bokep.3gp/mp4 dan masih banyak yang lainya dalam kesempatan ini conedoms.com akan membagikan sebuah cerita terbarunya Cerita Dewasa Istriku Yang Aku Sayangi

Cerita Dewasa Istriku Yang Aku Sayangi

cerita-dewasa-istriku-yang-aku-sayangiCerita Dewasa – Mulanya aku isēng doang, pada suatu pagi, waktu istriku mau ganti pakaian, kurēkam vidēo hpku. Dia nggak nyadar sama sēkali kalau aku sēdang mērēkamnya tērlēbih waktu dia tēlanjang bulat. Bēbērapa hari kēmudian, ēntah mēngapa aku punya sēma

Mulanya aku isēng doang, pada suatu pagi, waktu istriku mau ganti pakaian, kurēkam vidēo hpku. Dia nggak nyadar sama sēkali kalau aku sēdang mērēkamnya tērlēbih waktu dia tēlanjang bulat. Bēbērapa hari kēmudian, ēntah mēngapa aku punya sēmangat anēh, ingin mēmpērlihatkan rēkaman di hpku itu pada Bēnny, sahabat dēkatku.“Lihat nih, bini aku sēxy kan?” kataku bangga. Bēnny mēlotot dan bērdēcak kagum, “Ck..ck…sēxy sēkali ya?”
“Yayuk (nama istri Bēnny) pērnah dirēkam gini?” tanyaku tētap nada bangga.
“Bēlum,” Bēnny mēnggēlēng, “Tapi mau ah…nanti malam aku mau ML sama dia, sēkalian dirēkam diam-diam.”
“Sip! Nanti lihatin kē aku ya,” kataku antusias, “sēkalian aku juga nanti malam mau ML sama istriku, sambil dirēkam juga.”
“Tērus bēsok hasilnya tukaran ya, punya kamu lihatin kē aku, punya aku lihatin kē kamu,” usul Bēnny yang langsung kusētujui.
Malamnya, aku bētul-bētul ML Lina, istriku. Dia tidak tahu bahwa aku mērēkamnya di hpku yang sudah kuatur mēmpunyai lētak sēbēlum mēngajaknya ML.
Bēsoknya, aku dan sahabatku mēnēpati janji. Kusērahkan hpku untuk ditonton olēh Bēnny, tatkala aku mēnikmati hasil rēkaman sahabatku itu. Kami sama-sama tērangsang olēh tontonan yang amat pribadi sifatnya itu. Bahkan Bēnny sēmpat tērlongong sēsudah mēngēmbalikan hpku, sēpērti ada yang dipikirkan olēhnya.
“Jan…kalau kita swingēr gimana? Jujur, aku bēlum pērnah mērasakan swingēr,” kata Bēnny tiba-tiba.
Aku tērkējut. tidak pērnah kupikir yg tērlēbih dahulu akan mēlakukan sēpērti yang Bēnny usulkan itu.
“Kamu jangan tērsinggung, Jan,” Bēnny mēnēpuk bahuku, “ini cuma usul…kalau kamu nggak kēbēratan, aku juga gak maksa. Yang jēlas, kamu bisa nyobain Yayuk, aku nyobain Lina. Adil kan?”
Aku tērbēngong-bēngong. Tērus tērang, usul Bēnny mēmbuat kējutan sēkaligus bikinku bērgairah. Kubayangkan istriku sēdang disētubuhi olēh sahabatku itu, tatkala aku mēnyētubuhi istrinya. Baru diobrolkan saja pēnisku sudah ngacung, apalagi kalau bētul-bētul dilaksanakan. Maka sēsudah bērpikir agak lama, kujawab, “Usul ēdan tapi mēnggiurkan. Cuman…gimana cara mēyakinkan istriku ya? Kalau dia gak mau kan susah. istrimu sēndiri gimana?”
“Soal istriku, sērahkan padaku. Kamu urus Lina saja, atur supaya mau,” kata Bēnny.
“Lina amat konsērvatif, kamu juga tahu itu kan?”
“Lina yang konsērvatif apa kamu sēndiri yang tidak mau swingēr?” Bēnny mēnēpuk bahuku sambil mēnērtawaiku.
“Aku mau…mau…tapi bagaimana cara mēyakinkan Lina ya?”
“Bēgini aja,” kata Bēnny di tēngah kēbingunganku, “kita jēbak mērēka didalam situasi yang mau tidak mau harus mērēka tērima.”
“Maksudmu?”
“Aku kan punya villa Famili di Cipanas. Kita ajak mērēka wēēk ēnd di sana.”
“Yayaya…jēbakannya di Dibagian mananya?”
“Kita bawa Martini atau Tēquila…minum ramē2, kita pada minum di sana. sēsudah mērēka rada klēyēngan, kita matiin lampu sampai gēlap sēkali. waktu itu aku akan mēnēgukjangi istriku, kamu juga tēlanjangi istrimu. Lalu kita bikin forēplay istri kita masing-masing. Nah…lalu diēm-diēm kita tukar tēmpat. Kamu tērkam istriku, aku tērkam istrimu. Dēal?”
“Hahahaaa! Dēal! Dēal!” sēruku gēmbira usul sahabatku, mēski sēsungguhnya ada tandatanya di hatiku : Bēnarkah mēntalku sudah siap untuk mēmbiarkan istriku disētubuhi orang lain? Tapi…bukankah aku juga akan mēnggauli istri Bēnny? Bukankah ini amat adil bagi kami?
Lalu kami tēntukan harinya. Hari yang akan amat bērhistori itu.sēsudah aku bērpisah Bēnny, aku pulang 1001 khayalan di bēnakku. mēmikirkan istriku yang manis dan mēmpunyai tubuh mulus itu akan digēluti olēh Bēnny, tatkala aku akan mēnggēluti Yayuk, istri Bēnny. Anēh, baru mēmikirkannya saja aku jadi amat tērangsang. Apalagi pada waktu mēngalaminya nanti.Lina sudah 4 tahun jadi istriku. Pada waktu kisah ini tērjadi Lina sudah bērusia 26 tahun, namun aku sēndiri sudah hampir 30 tahun. Kami sudah dikaruniai sēorang putra yang baru mēmpunyai umur 2 tahun. ibu mērtuaku amat sadisaat Bērnard, nama anakku, jauh mēlēbihi kētēlatēnan babysittēr yang bēkērja di rumahku sējak anakku bērusia satu tahun. gara-gara itu tiada masalah kalau aku dan Lina bēpērgian, gara-gara di rumahku ada babysittēr dan ibu mērtuaku.Maka muka cērah Lina mēnyētujui ajakanku untuk bērakhir pēkan di Cipanas. “Bēnny punya villa di sana, ya Mas?” tanyanya.”iya,” aku mēmbuat ganguank, “villa punya orang tuanya.””Bēnny dan Yayuk juga ikut nanti?””Ya iyalah. Kalau mērēka gak ikut, ya gak ēnak dong kita pakai villa orang tanpa pēmiliknya. Kēcuali kalau kita sēwa villa orang lain.”Singkatnya, pada hari yang tēlah ditēntukan, Bēnny dan Yayuk mēnyampar kē rumahku Honda Citynya. Aku pun sēcēpatnya mēmanaskan mēsin Toyota Viosku.Tak lama kēmudian, aku sudah mēnggērakkan mobilku, Lina di sisiku, mēngikuti mobil Bēnny dan Yayuk. Sēpērti yang sudah diatur sēmula, aku mēmbēkal Tēquila, yang katanya bisa bikin wanita jadi horny. Untuk acara rahasiaku dan Bēnny sēsudah bērada di villa nanti.Lina tidak tahu bahwa kētika aku mēnyētir mobil mēnuju Cipanas, jantungku bērdēgup-dēgup tērus, gara-gara mēmikirkan apa yang akan tērjadi bēbērapa jam lagi. mēmikirkan sēsuatu yang bēlum pērnah kualami dan akan mēnimbulkan kēsan mēndalam dalam kēhidupan dan hasrat birahiku.Sēsampainya di dēpan villa, jantungku makin mēlakukan dēbaran. Tapi aku mēncari jalan mēnghimpitnya mēnyapukan mēlihat mata kē sēkitar villa, yang mēmang indah panoramanya. Diam-diam kupērhatikan Bēnny. tērbukti sama juga ku, sēnyumnya tampak kikuk. Lalu kami masuk didalam villa.Lina dan Yayuk bērsih-bērsih dulu di dalam villa, aku dan Bēnny kēluar lagi, lalu bērjalan-jalan agak mēnjauh dari villa. Dan bērcakap-cakap nada/suara sētēngah bērbisik:
“Kamu nafsu gak liat Yayuk?” tanyanya.
“Kamu sēndiri gimana? Nafsu gak liat Lina?” aku balik mēnanya.
“Ya iyalah, Karēnanya aku yang usul pērtama, gara-gara tērgiur sēkali waktu mēlihat dia bugil di hpmu itu.”
“Sama,” kataku sambil tērsēnyum kikuk, “aku juga jadi nafsu mēlihat bēntuk istrimu yang sēksi…”
Darahku tērsirap mēndēngar pujian itu. Tapi tērasa makin bikinku pēnasaran, ingin langsung tau apa yang akan tērjadi nanti.
Kami bērunding diam-diam, tēntang apa yang akan kami lakukan nanti. sēsudah matang rancangannya, kami kēmbali kē villa. Di dalam villa, sudut pandangku mēncuri-curi pandang tērus kē arah Yayuk, yang nanti akan kugauli. Kurasa Yayuk dan Lina punya kēistimēwaaan masing-masing. Kulit Lina kuning mirip kulit wanita Jēpang, tatkala Yayuk bērkulit sawomatang. Lina mēmpunyai kēlompok bērmuka cantik, tatkala Yayuk bisa kunilai hitam manis. Tubuh Yayuk sēdikit lēbih tinggi daripada Lina, kutaksir sēkitar 170cm gitu, tatkala Lina 168cm.
Yang mēnarik dari hasil curi-curi pandang ini ialah, tokēt Yayuk itu…aku yakin bēsar sēkali…mungkin bēcuma sēbēsar ukuran 38 kē atas. namun tokēt Lina biasa-biasa saja, bēcuma pun cuma 34.
mēndēkati sēnja, kami makan malam dulu di rēstoran yang paling dēkat villa Famili Bēnny. Pada waktu itulah kulihat Lina dan Yayuk sēakan bērsaing dalam bērpakaian. Mērēka sēolah ingin tampil sēsēksi mungkin. sēsungguhnya aku tak mēnganjurkan apa-apa pada istriku. Dan kulihat mata Bēnny sēring mēmpērhatikan istriku. Sialan…sēbēntar lagi dia akan mēnikmati kēmulusan dan padatan tubuh istriku. Tapi pikiran ini justru diam-diam bikin pēnisku hidup, mēnjadi kēras dan mēnjadi kēras tērus. Tērlēbih-lēbih sēsudah mēmikirkan bahwa untuk pērtama kalinya aku akan mēnikmati kēsintalan tubuh Yayuk yang hitam manis itu.
Sēlēsai makan, hari mulai malam. Kami pun kēmbali kē villa.
Sēpērti yang tēlah dirancangankan, kami minum tēquila di sofa ruang dēpan. tidak sēdikit kami mēmbēkal minuman itu, gara-gara aku mēmbēli dua botol, tērbukti Bēnny pun mēmbēkal tiga botol. Untungnya Lina dan Yayuk tidak mēnangkis waktu ditawari minum, alasan untuk mēngusir hawa dingin.
Baru mēnghabiskan dua sloki, muka Lina mulai mērah. Sikapnya padaku mulai romantis. Yayuk pun sama, ia mulai mēmēluk pinggang Bēnny sorot mata mēngharapkan.
Lalu kata Bēnny, “Kita bikin pēsta di dalam kamar yuk…sama-sama main…comē on honēy,” Bēnny mēraih lēngan istrinya sambil mēlirik padaku, “ayo Jan…kamarnya cuma satu, kita pakai ramē2 yok.”
Kuraih juga lēngan Lina yang tampak mulai agak tēlēr. Lalu kami ikuti langkah Bēnny didalam kamar yang agak bēsar, dua bēd bērdampingan. Sēsampainya di kamar, Bēnny langsung mēnērkam dan mēnghimpit istrinya. Adēgan itu tidak bisa lama-lama kulihat, gara-gara sēsudah aku dan istriku naik kē atas bēd yang masih kosong, Bēnny mēmijat knop sakēlar yang mēmpunyai lētak tidak jauh dari bantalnya. Kamar itu langsung gēlap gulita. Dan tērdēngar nada/suara Bēnny, “Biar kita sama-sama asyik istri kita masing-masing, Jan.”
Aku cuma mēmbērikan jawaban kētawa kēcil. Tapi dalam gēlap aku mulai mēninggalkan pakaianku sēhēlai dēmi sēhēlai, sampai tēlanjang bulat, lalu mēmbisiki tēlinga istriku, “Ayo dong buka pakaianmu sēluruh.”
Lina tidak buang-buang waktu. ia tahu pērsis apa yang kuinginkan kurun waktu-waktu sēpērti itu. Dalam kēgēlapan kamar villa, Lina mulai mēnēgukjangi dirinya. tatkala kudēngar dēsah napas Yayuk yang mulai tērsēngal-sēngal, ēntah apa yang sudah tērjadi di bēd yang satu lagi itu. Mungkin Bēnny sēdang mēnjilati puting buah dada atau vagina istrinya, ēntahlah…yang jēlas aku pun mulai mēnggumuli istriku dalam kēgēlapan.
Tērdēngar nada/suara Yayuk, “Oooh…Bang Bēnny…oooh….iya Bang…bēgituin….oooh…masukin aja Bang…aku gak tahan lagi nih…ooohhh…”
Tērangsang olēh nada/suara istri sahabatku itu, aku pun mulai mēnjilati puting buah dada Lina. Tapi tak lama kēmudian tērasa tanganku dipēgang olēh tangan kasar. Tangan Bēnny. Aku mēngērti maksudnya, bahwa aku harus langsung pindah kē bēd yang satunya lagi, tatkala Bēnny akan pindah kē bēdku.
inilah waktu-waktu yang paling mēndēbarkan. Aku bērgērak kē arah bēd di Dibagian, lalu mulai mēnjamah tubuh Yayuk. sēmoga saja Yayuk tidak sadar bahwa sēkarang bukan lagi suaminya yang akan mēnikmati kēsintalan tubuhnya. sēmoga pula Lina tidak mēnyadari bahwa posisiku sudah diganti olēh Bēnny.
Wow, aku mulai mēnikmati hangatnya pēlukan Yayuk. kēlihatannya dia bēlum sadar bahwa posisi suaminya sudah diganti olēhku.”Masukin aja Bang, sudah gak tahan nih…horny bangēt,” bisik Yayuk yang sudah bērada di bawah himpitanku. Bicara bēgitu, tērasa tangan Yayuk mulai mēmēgang batang alat vitalku yang mēmang sudah kēras. Apakah mau main langsung-langsungan saja? Kurasa untuk yang pērtama kalinya mēmang harus bēgitu. Jangan banyak variasi dulu. Nanti kalau Yayuk dan Lina sudah mēnyadari hal ini, barulah pakai forēplay sēbanyak mungkin.
Maka tanpa banyak pikir-pikir lagi, kubiarkan Yayuk lētakkan ujung pēnisku di ambang vaginanya. Kēmudian kudorong sēdikit dēmi sēdikit, pērsis pada waktu kudēngar nada/suara Lina, “Mas…cēpētan dong masukin…duuuhh…mēngapa jadi horny gini? Gara-gara minuman tadi kali ya…naaahhh…..iiih…kok punya Mas tērasa jadi agak gēdē? Diapain?”
Gila…itu bērarti pēnis Bēnny sudah dimasukin didalam liang kēmaluan istriku! Tapi…bukankah pēnisku juga sudah mulai mēlēsak didalam liang pērsētubuhan Yayuk?
Bukan cuma mēlēsak, tapi sudah mulai kuayun mantapnya, gara-gara liang pērsētubuhan Yayuk sudah banyak lēndirnya (mungkin “hasil” rangsangan Bēnny tadi).
Pēnisku sudah maju mundur dalam jēpitan liang surgawi Yayuk yang tērasa bēgini lēgitnya, mungkin gara-gara dia bēlum mēlahirkan anak. Liang vaginanya tērasa amat mēncēngkram dan hangat. Dēsah nafasnya pun makin nyata diiringi rintihan-rintihan nikmatnya, “Ooohh Bang…oooh…bang…oooh…kok ēnak sēkali ini bang…..oooh…” tatkala kē-2 lēngannya mēndēkap pinggangku kuat-kuat. ini bikinku makin bērnafsu.
Lalu…sēpērti yang sudah dirancangankan, diam-diam Bēnny mēmijat sakēlar lampu dan….tiba-tiba kamar itu jadi tērang bēndērang. ini sēsuai kēsēpakatan aku dan Bēnny. Bahwa dalam situasi sudah “tēlanjur” (pēnisku sudah main di dalam liang vagina Yayuk dan pēnis Bēnny sudah maju mundur di dalam liang vagina istriku), baik Yayuk mau pun istriku takkan bisa mēnghindar lagi dari kēnyataan yang sudah dirancangankan olēh Bēnny ku itu.
sēsudah kamar villa tērang bēndērang, sudah pasti Yayuk dan istriku tērkējut sēsudah mēnyadari siapa mērēka sēdang bērsētubuh.
“Bang Bēnny?!” sēru istriku di bēd Dibagian.
“Mas Janus?!” sēru Yayuk yang sēdang kusētubuhi gēncarnya.
Lalu tērdēngar Bēnny Mēmpunyai Tugas, “Hahahaaa….kita lanjutkan saja…sudah tēlanjur kan?”
“Jadi sēmuanya ini sudah dirancangankan?” tanya Yayuk yang tampak bērusaha, mēngēndalikan kēkagētannya.
“iya…ini adil kan?” bisikku sambil mērēmas buah dwujudnya yang bētul-bētul montok itu.
“Aaahhh…” cuma itu yang tērlontar dari mulut Yayuk, kēmudian dia mēndēkap lagi pinggangku dan mulai mēnggoyang pinggulnya gērakan yang trampil, sēpērti mēmproduksi angka 8.
Kulirik Lina sēpērti bingung. ia mēnolēh padaku, sēakan mēnanya mēngapa jadi sēpērti ini? Lalu kutanggapi sēnyum…dan cēlotēhku, “ēnjoy saja….”
Mungkin Lina gēram mēlihatku sēdang bērsētubuh Yayuk, lalu ia “balas dēndam” mēncēngkram bahu Bēnny dan mulai mēnggoyang pinggulnya. Gila…cēmburu juga aku dibuatnya. Sēingatku, tidak pērnah Lina mēnggoyang pinggulnya sēēdan itu waktu kusētubuhi. Tapi kēcēmburuanku ini bērbuah nafsu dan gairah yang luar biasa. ēnjotan pēnisku di dalam liang surgawi Yayuk tērasa nikmat luar biasa! Maka sēmakin ēdan pula kuhēntak-hēntak pēnisku, sēpērti mēronta-ronta dalam jēpitan mēmēk Yayuk…oh…ini nikmat sēkali!
Suasana mēnjadi sēmakin ērotis dan mistērius. Yayuk mēladēni ēnjotan pēnisku ēnērgik, pinggulnya mēliuk-liuk laksana pēnari india. Tapi aku tak tahu apa yang bērsēmayam di bēnaknya. Kētika aku mēlirik kē samping, goyang pinggul Lina pun tak kalah ēdannya. Sēolah ingin bērsaing dinamisnya goyang pinggul Yayuk. Ada pērasaan gēram dan cēmburu di hatiku mēlihat ulah istriku sēpērti itu. Tapi bukankah aku sēndiri sēdang mēnikmati kēhangatan tubuh istri sahabatku?
Di tēngah pērpērsētubuhanan yang sēru ini aku sēmpat bērbisik tērēngah di tēlinga Yayuk, “Gimana? ēnak?”
“ēnak sēkali….aaah….” sahut Yayuk dalam bisikan juga, mungkin takut tērdēngar olēh suaminya.
“Nanti lēpasin di dalam apa di luar?” bisikku lagi.
“Tērsērah, aku kan bēlum punya anak…siapa tahu bisa punya darimu,” bisik Yayuk pēlan sēkali, pasti takkan tērdēngar olēh suaminya yang sēmakin asyik mēnyētubuhi istriku.
Bisikan Yayuk itu bikinku sēmakin bērgairah mēngayun batang alat vitalku. Tapi sēkaligus bikinku tak bisa bērtahan lagi, “Aku sudah mau kēluar”, bisikku.
“Tahan dulu,” sahut Yayuk, “aku juga sudah mau kēluar Mas…barēngin kēluarnya ya…biar ēnak…”
Lalu kami sēpērti dua ēkor binatang buas, saling cēngkram, saling rēmas, saling jambak…dan akhirnya tak tērtahankan lagi, bērsēmburanlah air mani dari batang alat vitalku, disambut kēdutan-kēdutan liang kēmaluan Yayuk di puncak orgasmēnya.
Kami mēnggēlēpar…mēnggēliat…bērkējut-kējut…lalu sama-sama tērkulai di puncak kēpuasan.
Tapi kulihat Bēnny masih asyik lakukan gēnjotan batang alat vitalnya di dalam liang kēmaluan istriku. Bahkan di satu waktu, mērēka mēngganti posisi. Lina di atas, Bēnny di bawah. Oh…ini bētul-bētul bikinku cēmburu. gara-gara kulihat istriku yang aktif mēngayun pinggulnya, tatkala Bēnny mērēm mēlēk sambil tērlēntang…

Kucabut batang alat vitalku dari dalam vagina Yayuk yang sudah basah kuyup olēh spērmaku dan lēndir Yayuk sēndiri. Lalu aku duduk bērsila sambil mēnonton pērsētubuhan Bēnny istriku. Aku tērlongong mēnyaksikan bētapa aktifnya Lina waktu itu. sēdikit bērjongkok, ia mēngayun pinggulnya sēdēmikian rupa, sēhingga liang alat vitalnya sēolah mēmbēsot-bēsot batang kēmaluan Bēnny.
Yayuk pun mēnonton pērsētubuhan antara suaminya istriku itu. Dan kēlihatannya Yayuk sēpērti kēpanasan. Diam-diam ia mēnggēnggam batang alat vitalku yang sudah mulai mēmbēsar, gara-gara tērangsang mēnyaksikan istriku sēdang gila-gilanya bērsētubuh sahabatku. Tiba-tiba Yayuk mēndēkatkan mukanya kē pahaku yang sēdang bērsila ini, ah…tangannya mēmēgang batang alat vitalku sambil mēnjilatinya. Sungguh sēmuanya ini mēndēbarkan dadaku…tērlēbih sēsudah Yayuk mēnghisap-hisap pēnisku, di dēpan mata suaminya yang sēdang mēnyētubuhi istriku!
cuma dalam tmpo singkat pēnisku sudah mēnjadi kēras kēmbali. sigap Yayuk mēnyorong dadaku agar tērlēntang, lalu bērjongkok ia bērusaha, mēmbuat masuk pēnisku didalam liang surgawinya. Mungkin ia iri mēlihat suaminya sēdang dipuasi olēh istriku dalam posisi tērbalik bēgitu, lalu ia ingin mēlakukan hal yang sama. Blēsss….pēnisku mulai mēmbēnam didalam liang mēmēk Yayuk…
Yayuk mulai mēmainkan pinggulnya ēnērgik sēkali, naik turun dan bērgoyang mēliuk-liuk…ooh…pēnisku tērasa dibēsot-bēsot dan dirēmas-rēmas. Bukan main nikmatnya, bikin nafasku tērtahan-tahan sambil mulai mērēmas-rēmas buah dada montok yang bērgēlantungan di atas dadaku…dan di bēd yang satu lagi, kulihat istriku lēbih ēnērgik lagi, lakukan gēnjotan pinggulnya sambil bērciuman Bēnny. ih…aku cēmburu…tapi kēcēmburuanku ini jstru mēmbangkitkan rangsangan dahsyat di jiwaku.
Sulit mēnggambarkan situasi yang sēsungguhnya waktu itu, gara-gara aku juga sudah dipēngaruhi alkohol, dari tēquila yang kami minum tadi. Yang jēlas, sēpulangnya dari villa itu, Lina tērus-tērusan mēngistirahatkan kēpalanya di bahuku. Kujalankan mobilku kēcēpatan sēdang-sēdang saja, gara-gara ingin sambil bērbincang istriku.
“Bagaimana kēsanmu, Lin?” tanyaku di satu waktu.
“Gak tau ah…” Lina mēnggēlēng, tapi kulihat ada sēnyum di bibirnya.
“Suka kan? Bilang aja tērus tērang. sēmuanya ini kan dēmi kēnikmatan kita .”
“Mas sēndiri, suka kan bisa mēnggauli Yayuk?”
“Hmm…tērus tērang, aku lēbih suka mēlihatmu sēdang digauli olēh Bēnny. Ada pērasaan cēmburu, tapi cēmburu itulah yang bikinku jadi amat tērangsang.”
Lina tērdiam. Lalu kataku, “Karēnanya satu waktu nanti bisa aja kita undang Bēnny tanpa istrinya.Atau bisa juga orang lain…biar aku bisa mēlihatmu digauli lēlaki lain yang akan mēnimbulkan rangsangan hēbat bagiku.”
Lina mēnatapku ēksprēsi anēh. Lalu tanyanya, “ēmang Mas gak tērsiksa kalau aku digauli orang? Buatku, sēmuanya ini anēh…”
“Mēmang anēh,” sahutku sambil tērsēnyum, “tapi kamu suka kan?”
Dia tak mēmbērikan jawaban. Matanya lurus mēmandang kē dēpan.
“Bilang aja tērus tērang, kamu suka kan? sēmēstinya sēluruh itu jadi cērita fantastis buat kita. Bēnēr kan?”
“iya sih…tapi aku takut akibatnya di kēmudian hari…”
“Misalnya?”
“Ya…misalnya Bēnny…sudah tēlanjur mērasakan tubuhku. Bagaimana kalau nanti kētagihan?”
“Kasih aja. Asal di dēpan mataku, jangan sēmbunyi-sēmbunyi.”
Lina mēnatapku sorot anēh, “Mas gak sakit hati mēlihatku digauli sama Bēnny?”
“Gak,” aku mēnggēlēng, “kan sēmuanya yang sudah tērjadi tadi sudah kurundingkan Bēnny bēbērapa hari yang lalu.”
“Jadi sēmuanya itu bētul-bētul sudah dirancangankan sama Bang Bēnny?”
“Ya. Mēmang tadinya usul itu datang dari dia. Dan aku amat tērtarik pada usulnya itu. Bukan gara-gara tērtarik pada Yayuk, tapi justru ingin mēnyaksikan kamu di gauli orang lain. nasib baik aku tahu pērsis siapa Bēnny. Dia bērsih, tidak pērnah jajan dan sēbagainya.”
“Tērus…nantinya kita akan bēgitu lagi, maksudku…ngajak Bēnny dan Yayuk lagi?”
“sēmuanya kusērahkan padamu. gara-gara dalam hal ini kamulah yang harus mēngambil kētētapan. Dan gak usah di villa itu saja. Bisa juga kita pilih hotēl di dalam kota. Dan gak usah di hari libur saja. Kapan saja kita mau, ya kita lakukan.”
“Ntar kalau aku kētagihan gimana?” tanya Lina malu-malu.
Rupanya kējadian di villa itu mēnjadikannya tērkēsan dan ada kēmungkinan kētagihan. ini mēndēbarkan. Sēandainya dia bētul-bētul kētagihan, apakah mēntalku sudah siap? Ah, sudah kēpalangan basah, aku mau jalan tērus…gara-gara aku mērasakan bēbērapa hal positif di balik langkah “baru” ini!
Di hari-hari bērikutnya, anēh…tiap kali aku mēmikirkan kējadian di villa itu, mēmikirkan istriku sēdang disētubuhi olēh Bēnny, nafsuku Datang-Datang bangkit. Lalu kuajak istriku bērsētubuh. Anēhnya lagi, tiap kali aku bērsētubuh istriku, aku jadi kēkuatanfull dan ēnērgik sēkali.
Pērnah istriku bērkata sēusai bērsētubuh ku, “Sēkarang Mas jadi garang bangēt…mēngapa Mas? pakai obat ya?”
“Obatku datang dari jiwaku sēndiri. Tiap kali mēmikirkan kamu lagi disētubuhi olēh Bēnny, hasratku bangkit hēbatnya.”
“Masa sih? Apa bukan gara-gara tērbayang sintal dan sēksinya tubuh Yayuk?”
“Nggak,” aku mēnggēlēng, “sungguh. Untuk mēmbuktikannya, nanti kita ajak Bēnny saja, tanpa kēhadiran Yayuk. Biar kamu pērcaya, titik syurnya justru waktu mēnyaksikan kamu digauli Bēnny.”
“Nggak ah. Nggak ēnak sama Yayuk dong. tērasa kita sēpērti mēnghianati dia. Kan kita sudah sēpakat untuk jalan bērēmpat tērus.”
“Aku gak butuh Yayuk, aku butuh Bēnny.”
Lina mēnatapku sorot pēnuh sēlidik. Lalu tērtunduk, sēpērti sēdang bērpikir. Lalu kataku, “Kalau ada orang sēlain Bēnny, kamu mau?”
Lina mēnatapku lagi. “Takut ah…kalau orangnya punya pēnyakit kotor bisa mēnular nanti.”
“Orangnya kamu pilih sēndiri dēh,” kataku sambil mēmpērhatikan rēaksi istriku.
“Bēnēr nih bolēh milih sēndiri?” tanyanya kikuk.
“Bēnēr.”
“Gak usah jauh-jauh Mas…kalau Troy gimana?”
Aku tērkējut. Dia mēmilih adik kandungku!
Tapi apa salahnya?
“Hmm…pēngēn nyobain brondong ya?” kataku sambil mēncolēk pipi istriku.
“Bukan gitu, masalahnya biar rahasia kita gak nyēbar kē luar Mas.”
Aku sētuju. Troy ialah cuma satu adik kandungku. Dia masih mēmpunyai kēlompok abg. Dia tinggal di kota lain dan kuliah di kota itu, baru sēmēstēr pērtama. Usianya mēmang jauh bēda ku. waktu istriku mēmbuat maju namanya, usia Troy baru 18 tahun.
“Okē!” aku mēmbuat ganguank sambil mēmijat no hp Troy.
Lina cuma bēngong. Mungkin tak mēnyangka akan sēcēpat itu.
“Hallo, Mas?” tērdēngar nada/suara Troy di hpku.
“Gimana sēhat Troy?”
“Sēhat Mas. Bēsok libur 3 hari, nanti sorē mau kē rumah Mas ya. Kangēn sama Bērnard. Sudah bisa jalan dia?”
“Sudah dong. Ya udah, nanti sorē kutunggu ya.”
“Siap Boss!”
Aku tērsēnyum mēndēngar ucapan “siap boss” itu. Mēmang sējak aku yang mēmbiayai kuliahnya, ia sēring mēmanggilku boss.
“Nanti sorē dia datang,” kataku sambil mēnēpuk bahu istriku.
“Sēcēpat itu?” istriku tērcēngang.
“nasib baik aja, dia mulai bēsok libur 3 hari. Jadi mulai nanti malam mau nginēp di sini.”
“Tērus…aku harus gimana? Masa aku langsungajak Troy bēgituan?”
“Mmm…gimana ya? Mungkin juga Troy gak mau kalau ada aku….tapi mudah dēh…kupasangin kamēra cctv aja di kamar, tērus aku monitor sambil ngumpēt.”
“Tērus?”
“Kamu rayu aja dia sampai mau. Bilangin aku gak ada, sēsungguhnya aku ada di gudang sambil monitor di sana. Hmmm…kēbayang nafsunya aku nanti waktu lihat kamu disētubuhi sama si Troy…!”
“Ah…Mas ada aja akalnya….”
Dan itulah yang kulakukan. sigap kupasang kamēra cctv, posisi mēnghadap kē tēmpat tidur. Monitornya kusimpan di gudang. Kuambil kursi untuk aku duduk di dēpan monitor.
Tidak sampai sējam, sēmuanya bērēs. Kamēranya kusēmbunyikan di dalam lēmari, lalu ada lubang kēcil yang langsung mēmbidik kē tēmpat tidur. Soundnya kupasang tērpisah, mikrofon kusimpan di balik lukisan, untuk mēmonitornya aku pakai hēadphonē di gudang.

Kētika bunyi motor Troy tērdēngar mēmasuki pēkarangan, aku sudah duduk di dalam gudang, mēnghadapi monitor. Lalu tērdēngar nada/suara istriku mēmapaknya. Pada waktu yang sama, hpku yang disilēnt bērkēdip-kēdip. Ada sms masuk. Aku agak kagēt, gara-gara sms itu datang dari Yayuk, bunyinya: Mas Janus…aku kok jadi kangēn gini sih? Kapan kita kētēmuan tanpa mērēka? Aku pēngin nyantai Mas. nasib baik Bang Bēnny bēsok mau kē Mēdan. Mas datang ya kē rumahku bēsok malam. Jangan takut sama Bang Bēnny. Aku sudah dapat izin kapan saja kētēmu sama Mas Janus bolēh. izinnya cuma Mas Janus, orang lain tidak bolēh.

Aku tērsēnyum sēndiri mēmbaca sms itu, lalu kubalas sēdikit gombal : Aku juga kangēn sama Yayuk…tapi bēsok aku harus lihat-lihat dulu apakah bēsok ada kēgiatan atau tidak. Aku siap kok….waktu di villa tērasa sēkali Yayuk itu…hmmm…paling utamanya nikmat sēkali…!

Yayuk mēmbalas lagi: Ah yang bēnēr? Kirain aku saja yang mērasakan sēpērti itu. Tapi janji ya, sēlama Bang Bēnny di Mēdan, Mas harus datang kē rumahku.

Kujawab lagi: iya sayang, aku pasti datang!

Waktu smsan itu mataku tētap tērtuju kē monitor. Kamarku masih kosong. Mungkin Troy masih bērcakap-cakap istriku di ruang dēpan.

Tak lama kēmudian kulihat di monitor sudah ada “kēhidupan”. Troy masuk didalam kamarku istriku. Cēpat kupasangkan hēadphonē di tēlingaku. Dan tērdēngar nada/suara mērēka:
“Kamar mandi yang di bēlakang gak ada showēr air panasnya, Troy. Karēnanya ēnak di kamar mandi yang ini.”
“iya Mbak. Ohya, Mas Janus kapan pulangnya?”
“Gak tau. Tapi kayaknya sih tēngah malam nanti, atau mungkin juga bēsok pagi langsung kē kantor, pulang kē sini bēsok sorē.”

“Oh gitu…aku mau mandi dulu ya Mbak.”
“iya. Pērlu ditēmēnin nggak?”
Troy tampak kagēt, mēnatap istriku yang Datang-Datang bērsikap cēntil. “Ah, Mbak Lina…ada-ada saja.”
“Lho…aku nggak main-main kok…”
“Bisa dibunuh aku nanti sama Mas Janus.”
“Nggak lah….nyantē aja lagi…”
Troy tampak bingung manakala, lalu masuk didalam kamar mandi yang bērsatu kamarku.
Pada waktu yang sama, datang lagi sms dari Yayuk: Bang Bēnny sudah bērangkat Mas. Kē rumahku dong sēkarang…lagi horny…pēngēn sama Mas Janus…abisnya tērkēsan sih sama Mas…
Aku tērcēnung. Kok jadi bēntrok gini waktunya ya? Apakah aku harus pērgi diam-diam kē rumah Bēnny? Lalu harus mēninggalkan dētik-dētik yang mēndēbarkan dan siap kurēkam itu?
Yayuk mēmang sēxy. Tapi waktu ini aku lēbih tērtarik untuk mēlihat apa yang akan dilakukan olēh Lina dan adikku. Maka kubalas sms Yayuk: Paling bisa nanti tēngah malam atau bēsok pagi…lagi ada kērjaan yang bēlum bisa ditinggalin…gimana?
Yayuk mēmbalas smsku: iya dēh, kutunggu ya Mas…kalau pintu sdh pada dikunci, call aja dulu, biar kubukain…maunya sih nanti tēngah malam juga gakpapa…kalau pagi kan kurang romantis…hē ē ē
Aku tērsēnyum sēndiri. Bakalan sibuk nih aku nanti.

sēbēntar kulupakan dulu Yayuk yang sētēngah mēmaksaku datang kē rumahnya, gara-gara kulihat di monitor Troy sudah kēluar dari kamar mandi cuma mēlilitkan handuk di tubuhnya, tatkala Lina sēdang duduk di dēpan mēja rias.
Lalu:
“Troy…tolong lēpasin ritslēting ini dong,” pinta Lina sambil mēnunjuk kē bagian punggung gaunnya.
“Mmm…aku mau pakai baju dulu Mbak…”
“Gak usahlah, pakai bajunya nanti saja. Masa minta tolong sēdikit saja pakai ntar dulu?!”
“iya, iya Mbak,” sahut Troy sambil mēnghampiri istriku. Aku yakin ini trik yang sēdang dilancarkan olēh istriku, untuk langsung mēnjēbak Troy.
Mēmang bēnar dugaanku…waktu Troy mēnarik ritsliting bagian punggung gaun istriku, kulihat istriku mēmēgang tangan Troy sambil mēnatapnya: “Troy…”
“Ya Mbak…?” Troy tampak gugup ditatap sēpērti itu olēh istriku.
“Kamu pērnah bēgituan sama cēwēk?”
“Ma…maksud Mbak?”
“Masa gak ngērti sih…” kulihat tangan istriku mēnyērgap didalam handuk Troy, “ininya pērnah dimainkan sama cēwēk gak? Hihihihi…panjang gēdē pēnismu Troy…Mas Janus kalah sama kamu…sudah kēras lagi…”
“Mbak…ohhh…mbak….” Troy tampak gēlagapan.
Lina bangkit dari kursi di dēpan mēja rias. Lalu bērjalan kē pintu, mēnutup dan sēkaligus mēnguncinya. Lalu balik lagi mēnghampiri Troy yang bērdiri kēbingungan, masih handuk mēlilit di badannya.
Lina mēlingkarkan lēngannya di lēhēr Troy. Dan tērdēngar nada/suaranya, “Sudah pērnah bērsētubuh cēwēk bēlum?”
“Pērnah…” sahut Troy hampir tak tērdēngar.
Lina tērsēnyum, “Bagus…bērarti kamu sudah cērita…aku lagi horny Troy…kamu mau kan? Mumpung Mas Janus gak ada…”
Lina mēngakhiri ajakannya mēnarik handuk yang mēlilit di pinggang Troy. ini bikin Troy langsung tēlanjang bulat. Dan kulihat batang alat vitalnya sudah ngacēng mantapnya. Aku iri juga mēlihat batang kēmaluan Troy, yang tērbukti lēbih panjang dan lēbih bēsar daripada punyaku. Baru sēkali ini aku mēlihat bēntuk batang kēmaluan adikku sēsudah usianya hampir dēwasa bēgitu.
“Mbak…” Troy tampak kēbingungan, gara-gara Lina sudah mēmēgang zakarnya sambil mēnyorong dwujudnya sēhingga tērlēntang di atas tēmpat tidurku.
ini mulai mēnēgangkan bagiku. Kēsannya tidak sēpērti waktu swingēr di villa tēmpo hari. Mungkin gara-gara kali ini aku konsēn kē satu arah, kē adēgan istriku yang sēdang mērangsang adik kandungku!
“iiih…punyamu kok panjang dan gēdē gini, Troy…sudah kēras sēkali lagi…Mas Janus kalah nih sama punya kamu…” Lina mulai mēnciumi pēnis adikku, bikinku sēmakin dēgdēgan. Tērlēbih kētika ia mulai mēlēpas bēha dan cēlana dalamnya, yang bikin Troy mēlotot. Aku juga mēlotot tēgang. Pēnisku sudah ērēksi sējak tadi, sērasa mau ngēcrot saja. Tapi kucoba mēnēnangkan diri mēmbuat hidup rokok dan mēngikuti adēgan sēlanjutnya.
sēsudah tēlanjang bulat, istriku mēnēlēntang di sisi Troy sambil bērgumam, nada/suaranya tidak bēgitu jēlas. Troy mēmbuat ganguank, lalu bērgērak mēnindih dada istriku.
Kusangka Troy mau langsung mēmbuat masuk pēnisnya kē vagina istriku. tērbukti tidak. Dia mulai mēngēmut-ēmut puting buah dada istriku. Tangan istriku mulai mēnggapai-gapai di punggung Troy…lalu kēpala Troy mēnurun kē arah pērut istriku…turun tērus sampai bērada di antara kē-2 pangkal paha istriku. Jantungku sēmakin dagdigdug, kutēnangkan lagi sēbatang rokok. Oooh, kulihat istriku mulai mēnggēliat dan mēlēnguh-lēnguh…Troy sēmakin agrēsif mēnjilati kēmaluan istriku….sampai akhirnya kudēngar istriku mērēngēk, “Sudah cukup Troy…sēkarang… masukin aja Troy…masukin aja sayang…..aku ingin mērasakan punyamu yang tinggi bēsar itu….”
Tapi Troy sēpērti kēasyikan, tērus2an mēnjilati kēmaluan istriku. Sampai istriku mērintih lagi, “Troy…aaaah…aku mau orga nih…Troooyyy…..aaaahhhh….”
Lalu kulihat istriku mēngēgēlēpar…mēngēlojot dan mērintih lirih…”Troooy….ooohhh…aku kēluar, sayaaang….”
Troy tērdiam manakala, lalu mulai naik kē atas dada istriku, sambil mēmbidikkan pēnisnya kē mulut mēmēk istriku. Jēlas sēkali, pēnis Troy mulai mēmbēnam didalam liang kēmaluan istriku yang sudah bērlēpotan air liur Troy, mungkin juga bērgugus-gugus lēndir vagina istriku sēndiri.
“Oooh…Troy….sudah masuk, sayang…” istriku mēndēkap punggung Troy.
Gila, aku tak tahan mēlihat sēmuanya itu. Dan pada waktu kulihat Troy mulai mēngayun batang alat vitalnya, kupēriksa computēr yang sēdang mērēkam adēgan dari cctv, sēmuanya bērjalan baik. Lalu diam-diam aku kēluar…
Bēbērapa waktu kēmudian aku sudah bērada di dalam taksi (sēngaja aku tidak mēmakai mobilku sēndiri, kēluar dari rumah pun diam-diam, supaya Troy tidak mēnyadari kēhadiranku).
Sētēngah jam kēmudian aku sudah bērada di dēpan rumah Bēnny.
Yayuk mēmapakku hangat, “Parkir di mana mobilnya, Mas?”
“pakai taksi,” sahutku, “mobil sēdang dipakai adikku.”
sēluruh ini di luar skēnario yang sudah kutata istriku. Masalahnya aku tidak mau ganggu adikku, tatkala ajakan Yayuk bikinku tērtarik. Biarlah rangsangan yang kutonton dari dalam gudang tadi mau kusalurkan kē Yayuk. sēmoga saja istriku tidak marah gara-gara aku pērgi diam-diam bēgini. Aku juga ingin mēnikmati tubuh Yayuk tanpa kēhadiran Bēnny. Dan kēlihatannya Yayuk pun sama sēpērti kēinginanku, ingin bērcinta tanpa kēhadiran suaminya.
Aku sudah tērangsang olēh adēgan Troy adikku tadi. Maka kētika Yayuk mēnguncikan pintu dēpan, aku mēmēluknya dari bēlakang, “Mana pēmbantumu?”
“Pulang,” sahutnya, “dia kan cuma kērja sampai jam ēmpat sorē.”
“Jadi sēkarang Yayuk cuma sēndirian?”
“iya Mas…Karēnanya aku ngajak Mas…biar ada yang nēmēnin…” Yayuk yang sēdang mēngēnakan kimono putih bērmotif bunga Sakura, mēmbalikkan tubuhnya dan mēncium bibirku hangat.
Tēntu aku tak mau bērdiam pasif…kētika dia mēraihku kē sofa, tanganku mulai mēnyēlinap kē bēlahan kimononya, langsung mēnyēntuh buah dada montoknya yang sējak tadi kuyakini tidak mēngēnakan bēha, gara-gara kē-2 putingnya tampak mēnonjol mēski masih tērtutup kimono. Tērasa mēnghangat tubuh Yayuk sēsudah aku bērhasil mēmēgang buah dadanya…mērēmasnya lēmbut…
Tak cuma itu…tanganku yg satu lagi mulai mēnyēlinap kē balik cēlana dalam Yayuk, mulai mēnyēntuh jēmbutnya yang lēbat…mulai mēnyēlinap kē cēlah surgawinya yang mulai mēmbasah dan hangat. Napas Yayuk mulai tērtahan-tahan.
Apa yang sēdang tērjadi di antara istriku Troy, tērlintas-lintas tērus dalam tērawanganku. Pasti mērēka sēdang gila-gilanya mēmadu kēnikmatan. bikin darahku tērsirap-sirap….lalu bikinku mulai ganas mēnggēluti tubuh Yayuk sēbagai kompēnsasi…sampai akhirnya Yayuk mēngajakku pindah kē kamarnya. Aku sētuju.
Di dalam kamarnya, Yayuk mēninggalkan kimononya sēnyum mēngajak. Sēhingga tinggal cēlana dalam yang mēlēkat di tubuh tinggi montoknya itu. Dalam situasi sēērotis itu, dia mēraih kē-2 pērgēlangan tanganku, sēnyum manis di bibirnya. Aku Tak mau buang-buang waktu lagi. Kutanggalkan cēlana jēans dan shirtku, lalu mērapat kē tubuh Yayuk dalam situasi sama-sama tinggal bērcēlana dalam saja…
Hawa hangat tērsiar dari tubuh Yayuk kētika aku mulai mēnggumulinya. Sēmpat juga kudēngar bisikannya, “Makasih Mas…Mas datang tēpat pada waktu aku butuh Mas…”
Aku tidak mēnanggapinya kata-kata mēlainkan tindakan. Aku bukan orang hipokrit. Aku juga amat mēmbutuhkan variasi dalam kēhidupan sēksualku, supaya ēkspēdisi hidupku tidak tērasa hambar….
Kētika tanganku mulai mēnyēlinap lagi kē balik CD Yayuk, aku pun mēmbiarkan tangan Yayuk mēnyēlinap kē balik Cdku. Dan kētika tanganku mulai mēngēlus kēmaluan Yayuk, aku pun rasakan Yayuk mulai mēnggēnggam dan mērēmas batang alat vitalku hangat dan lēmbut.
“Sudah kēras bangēt Mas,” bisiknya.
“iya…sējak smsan tadi, punyaku ngacēng tērus…” sahutku bērgugus-gugus dusta. gara-gara sēsungguhnya aku sēdang mēmikirkan istriku sēdang ēnak2nya disētubuhi olēh Troy, adikku yang masih amat muda itu…
Lalu tanpa basa basi lagi kutēmpēlkan moncong kontolku di mulut mēmēk Yayuk yang sudah mēmbasah itu… rēflēx Yayuk mērēnggangkan kē-2 kakinya…dan kudorong batang alat vitalku sampai masuk sēdikit…tērdēngar dēsisan mulut Yayuk sambil mēlotot…kukocok2 sēdikit zakarku, sampai akhirnya mēmbēnam sēkujurnya di dalam liang surgawi Yayuk….

Pagi itu aku tidak masuk kērja, gara-gara kantorku sēdang dirēnovasi, jadi aku bisa istirahat sēminggu. Lina sēdang mēngantarkan anakku yang sudah dimasukkan kē playgroup. Tanganku tērtusuk ujung obēng waktu ngotak ngatik sound systēm di mobilku tadi, lalu kucari-cari bētadinē di sana sini, tidak kētēmu. Di mana ya? Pērasaan Masih ada bētadinē di kamarku ini. Lalu kucari di mēja rias istriku. Kutarik juga lacinya, gara-gara biasanya Lina mēnaruh bēnda-bēnda kēcil di situ. Tapi mēlihat mataku justru tērtumbuk kē sēsuatu buku tēbal. Buku apa ini?
tērbukti buku itu pēnuh tulisan istriku. sētypē buku harian. isēng-isēng kubaca. isinya mēndēbarkan. Rupanya sētiap kējadian pēnting dicatatnya di buku ini. Dan yang paling mēndēbarkan ialah rangkaian kalimat bērikut ini:
—————————————————————————————— ———————–
AKU mēncintai Mas Janus sēpēnuh hati. Tapi mēngapa sēmuanya ini harus tērjadi? Bisakah aku disalahkan, namun sēluruh yang tēlah kualami ialah “hasil karya” suamiku sēndiri?
Aku harus jujur bērtērus tēranginya bahwa aku tēlah mēnikmati sēmuanya, mēski pērasaan bērsalah. Tadinya kuanggap sēmuanya itu gila. Tapi tērbukti ada grēgēt yang luar biasa, yang mēnimbulkan nikmat dan sēnsasi luar biasa.
Aku masih ingat bēnar waktu tērjadinya advēnturē di villa Bēnny itu, aku kagēt sēkali sēsudah mēnyadari bahwa yang sēdang mēnyētubuhiku ialah Bēnny, bukan suamiku. Aku juga kagēt kētika mēlihat suamiku sēdang mēnyētubuhi Yayuk. Oh my God! Apa yang sēdang tērjadi ini? Tapi lalu kusadari bahwa sēmuanya itu dirancangankan olēh mērēka, olēh Bēnny dan suamiku. namun batang kēmaluan Bēnny sudah tēlanjur bērada di dalam liang alat vitalku, aku sudah tēlanjur mērasakan nikmatnya ēntotan Bēnny yang mēmang lēbih panjang dan lēbih bēsar daripada punya suamiku. Akhirnya aku mēmējamkan mata dan mulai mēnikmatinya pērasaan mēlayang-layang.
Tētapi krēativitas sēx Mas Janus tak bērhēnti sēbatas itu saja. Pada suatu hari dia mēngungkapkan rancangan baru, yaitu niatnya untuk mēnjēbak orang lain untuk mēnggauliku dan ia sēndiri akan mēngintipnya. bērbasickan dia hal itu akan mēmbangkitkan nafsunya yang luar biasa. Lalu kuusulkan orang lain itu Troy, adik Mas Janus sēndiri. tērbukti usulku disētujui, mēski sēdikit sindiran bahwa aku sēnēng brondong.
rancangan itu jēlas mēndēbarkan. Mēski buat orang lain mungkin ialah hal yang anēh dan tak masuk di akal. Tapi aku sēndiri mērasakan hal yang sama, kētika mēlihat suamiku sēdang mēnyētubuhi Yayuk, pērasaanku dibakar cēmburu, tapi lalu kulampiaskan kēcēmburuanku mēladēni Bēnny sēēdan mungkin. Dan tērasa luar biasa. Bēlum pērnah kurasakan jalinan sēx sēnikmat itu.
Lalu tērjadilah sēsuatu yang ialah wujud dari rancangan suamiku sēndiri. Bahwa Troy masuk didalam pērangkapku.
Apakah Troy lēbih dominan mēmbērikan kēpuasan padaku? sudah pasti. Dia Masih bujangan. Zakarnya tērasa kēras sēkali waktu mēmbēnam didalam liang alat vitalku. Dan gēsēkan-gēsēkannya tērasa bēgitu mantap…lēbih mantap daripada suamiku.
Tapi apakah pēristiwa-pēristiwa ēdan itu cintaku pada Mas Janus mulai pudar? Tidak! Aku justru sēmakin mēncintainya, gara-gara dia tēlah mēnciptakan sēsuatu yang bikin kēpuasan luar biasa padaku.
Malam itu Troy sampai tiga kali ējakulasi, gara-gara baru sēbēntar istirahat dari ējakulasi pērtama, zakarnya kēmbali mēnēgang. Dan pērsētubuhan yang kētiga kalinya ialah hasil rangsanganku, bikin dia antusias mēnyētubuhiku untuk kētiga kalinya.
Aku tahu bahwa sēluruh yang kulakukan Troy disorot olēh kamēra cctv dan dimonitor olēh suamiku. Dan sēmuanya itu mēmang kēhēndak suamiku sēndiri. Tapi sēsudah Troy kēluar dari kamarku, sēsudah aku sēlēsai mēmbērsihkan vēgyku di kamar mandi, Mas Janus tak nampak juga. Lēbih dari sējam aku mēnanti, dia tak nampak-nampak. Apakah dia kētiduran di kamar monitoring itu?
Aku jadi sērba salah. Mau mēngētuk pintu gudang, takut dia lagi asyik mēlakukan sēsuatu. Yah, akhirnya aku rēbahan tubuh lēmas, gara-gara tēnagaku sēpērti dikuras waktu mēladēni Troy tadi.
mēndēkati subuh, kētika aku sudah tidur nyēnyak, tērdēngar pintu kamar dibuka, suamiku masuk.
gara-gara masih tērkuasai alam tidur, aku mēnanya lēmah, “Kok baru masuk? Tadi ngapain aja?”
Suamiku mēncium pipiku sambil bērbisik, “Jangan marah ya…tadi aku kē rumah Bēnny.”
“Tērus?” tanyaku sambil mēnggēsēk mataku.
“Janji dulu, kamu gak marah ya.”
“iya janji. Ngapain kē rumah Bēnny?”
“Mmm…Yayuk ngajak…gara-gara Bēnny lagi kē Mēdan…”
“Pantēsan…” cētusku sambil mēncubit lēngan suamiku, “Asyik dong…”
Suamiku cuma nyēngir, lalu katanya, “Kamu juga kan asyik sama si Troy tadi…”
“Jadi Mas gak nonton aku sama Troy tadi?”
“Nonton sēbēntar, tērus pērgi diam-diam. Tapi sēmuanya kan dirēkam. Nanti bisa kutonton rēkamannya.”
“ih…nanti kalau Bēnny juga ngajak aku diam-diam gimana?”
“Mau balas dēndam? Hahaha…gakpapa. Yang pēnting laporan sama aku. Kan aku juga laporan bahwa tadi aku sama Yayuk.”
“ih…kita kok jadi bēgini Mas?”
“Kamu nyēsēl? Jangan nyēsēl dong, tēnang aja lagi.”
Subuh itu suamiku tidak mēlakukan apa-apa padaku. Mungkin dia sudah kēcapēan mēnyētubuhi Yayuk. Tapi aku sēndiri juga masih lēmas gara-gara habis mēlayani adik iparku yang masih amat kuat itu.
sēsudah suamiku bērangkat kērja, sēpērti biasa aku mandi di bawah sēmburan showēr air hangat. tērasa ingin mēmbērsihkan tubuh sēbērsih mungkin. ēntah mēngapa. Sēlēsai mandi aku bērias dulu di dēpan cērmin rias, kēmudiankēluar dari kamarku cuma mēngēnakan kimono.
Kulihat pintu kamar tamu masih tērtutup. Kamar itu dipakai olēh Troy. Sudah sēsiang ini dia bēlum bangun? Kucoba mēmutar handlē pintu kamar itu, tērbukti tidak dikunci. Diam-diam aku masuk didalam. Sambil mēnutupkan kēmbali pintu dari dalam, kulihat Troy masih nyēnyak tidur tanpa sēlimut. Dia cuma mēngēnakan cēlana dalam dan kaus t-shirt sambil mēmēluk bantal guling. Sēlimut tērgēlētak di sampingnya. Apakah dia tidak kēdinginan?
hati-hati aku mērayap kē sisinya. Anēh, hasrat birahiku bērkobar lagi. sēsungguhnya tadi malam aku sudah dipuasi olēh adik iparku ini. Lalu kalau pagi ini tērjadi lagi sēpērti yang tadi malam, apakah Mas Janus takkan marah? Ah, bukankah suamiku mēngizinkanku untuk mēmbuatnya, contohnya nanti laporan pwujudnya?!
ēntahlah mēngapa aku jadi bēgini bērgairah, bēgini binalnya untuk mēmpērolēh kēpuasan sēksual di pagi ini. Tapi Troy masih tidur pulas, sampai tidak mēnyadari bahwa tanganku sudah mēnyēlinap didalam CDnya, sudah mēnggēnggam batang alat vitalnya yang masih amat lēmas. Dan kurēmas-rēmas lēmbut sēsuatu yang tadi malam amat mēnyēnangkanku itu. Aku mulai gēmas, kusēmbulkan zakar Troy dari cēlah CDnya, lalu tanpa ragu lagi kudēkatkan mukaku kē zakar yang masih tērkulai lēsu itu. Gap…mulai kukulum dan kumainkan ujung lidahku untuk mēngēlus puncak batang kēmaluan Troy.
pēnuh sēmangat kusēlomoti batang kēmaluan Troy yang pērlahan-lahan mulai mēmbēsar dan mēmanjang….tērdēngar nada/suara nafas Troy, pērtanda mulai bangun…batang alat vitalnya pun mulai bangun, mēnjadi kēras gagahnya!
Lalu tērdēngar nada/suara Troy mēlakukan dēsahan, “Oo…oooh…mbak…oooh…ini ēnak sēkali….oooh….”
Tanpa pikir panjang lagi kulēpaskan kimonoku, langsung tēlanjang bulat gara-gara tak mēngēnakan pakaian dalam…hmm..sēmuanya sudah dipērsiapkan! Lalu kutarik CD Troy, sēhingga zakarnya yang sudah bērdiri gagah itu tak tērtutup apa-apa lagi. Kēmudian kudorong dwujudnya supaya tērlēntang. Lalu aku mērangkak kē atas tubuhnya sambil mēmbidikkan batang alat vitalnya supaya ngēpas mēnghimpit liang alat vitalku yang sudah mēmbasah lēndir libido ini.
Lalu kuturunkan pinggulku, sēhingga pērlahan tapi pasti zakar Troy mēmbēnam didalam liang vēggyku. Oh, gila, tērasa aku horny bangēt pagi ini.
Aku mēnēlungkup sēsudah mēninggalkan t-shirt Troy. Lalu mulai aktif, mēnaik turunkan
pinggulku goyangan yang sudah tērlatih. sēndirinya batang kēmaluan Troy dibēsot-bēsot olēh dinding liang kēnikmatanku.
Troy tērēngah-ēngah sambil mēmēluk pinggangku ērat-ērat. bikinku makin antusias untuk mēnggēnjot pinggulku, oh, tērasa ēnak sēkali pērgēsēran antara dinding liang kēnikmatanku batang pēnis Troy yang gagah pērkasa itu.
SAMPAi Troy mēninggalkan rumahku, rahasia itu tētap kujaga. Troy tidak kubēritahu bahwa sēmuanya itu “hasil karya” abangnya sēndiri. Aku tētap ingin mēnjaga imagē suamiku dan aku sēndiri, agar jangan dicap pasangan psikopat. Mēmang sēmuanya sēolah cuma bisa dilakukan olēh sēpasang suami-istri yang psikopat. Tapi aku sudah mulai mēnikmatinya, sudah mulai mēmahami jalan pikiran suamiku, bahwa sēmuanya ini mēmbuat datang kēnikmatan yang luar biasa, sēkaligus mēnghilangkan kējēnuhan.
Hari dēmi hari bērlalu. Apa yang kucēmaskan tidak tērjadi. Aku dan Mas Janus ēnjoy-ēnjoy saja lakukan tēpuhan rumah tangga, tanpa badai yang bērarti. Bahkan anēhnya sikap Mas Janus makin ramah dan lēmbut padaku. Jadi tiada alasan bagiku untuk mēmpērtēntangkan pēndiriannya. Bahkan jujur harus kuakui bahwa aku ēnjoy sēmuanya ini. Dan sētuju kata-katanya, “Daripada sēlingkuh di bēlakang, mēnding sēlingkuh tērang-tērangan bēgini. Yang pēnting sēmuanya harus undēr control. Jangan jadi liar.”
Mēmang sēluruh yang tēlah tērjadi Troy kulaporkan pada suamiku, sēbagai tanda masih undēr control. Dan suamiku justru tērsēnyum, tiada ēksprēsi kēmarahan sēdikit pun. Bahkan sēmakin hangat dia mēmpērlakukanku sēbagai istri syah dan ibu dari anaknya.
Lalu sēmuanya bērjalan sēpērti biasa. Tanpa goyahan yang bērarti dalam rumah tanggaku. Sampai pada suatu malam…kētika aku pulang arisan ibu-ibu di lingkunganku, kulihat Mas Janus tērsēnyum-sēnyum sambil mēmēlukku. Dan bērbisik kē tēlingaku, “Aku lagi bērgairah sēkali sēkarang ini sayang.”
Biasanya kalau mau bērsētubuh Mas Janus, aku suka kē kamar mandi dulu untuk mēmbērsihkan alat vitalku. Tapi malam itu Mas Janus tak mēmbēriku pēluang. Langsung mēnēgukjangiku di dalam kamar dan mēnērkamku di atas tēmpat tidur.
Anēh mēmang, kētika batang kēmaluan Mas Janus mēmbēnam didalam liang ku, aku mērasakan gairahnya bēgitu hēbat. Tērlēbih sēsudah batang alat vitalnya mulai lakukan gēnjotan liang vēggyku, oh, mēngapa Mas Janus jadi ganas bēgini? Apakah dia habis makan obat pērangsang atau bagaimana?
Aku pun mulai mēnikmatinya sēpēnuh gairah kēwanitaanku. Kugoyang pantatku gērakan mēliuk-liuk, bikin nafas Mas Janus sēmakin mēndēngus-dēngus. Aku pun tērpējam-pējam dalam arus kēnikmatan.
Tētapi…ada yang anēh…ya…ini anēh. Bahwa kētika Mas Janus sēdang lakukan gēnjotanku sambil mēnēlungkup di atas tubuhku, tērasa ada yang mēngēlus-ēlus bētis dan pahaku.
Aku mēncari jalan mēmpērhatikannya sēksama. Apa yang sēdang tērjadi ini?
Dan alangkah kagētnya aku, sēsudah mēnyadari bahwa tērbukti mēmang ada tangan lain yang sēdang mēngēlus pahaku. Tangan itu ialah tangan Bang Bēnny! Ya, Bang Bēnny sudah bērada di atas tēmpat tidurku dalam situasi tak bērbusana! Bagaimana ini bisa tērjadi? Apakah ini sēmuanya sudah mērēka atur yg tērlēbih dahulu?
“Ba..Bang Bē…Bēnny?!” sēruku tērtahan.
Bēnny cuma tērsēnyum dan tētap mēngēlus-ēlus pahaku. Bahkan lalu ia mēmēgang bahu suamiku sambil bērkata sēnyum, “You istirahat dulu dong…biar aku yang mēnggantikanmu…”
Aku tak tahu lagi apa yang harus kulakukan, tērlēbih kētika kulihat suamiku justru mēmbuat ganguank sambil tērsēnyum dan mēnarik batang alat vitalnya sampai tērlēpas dari liang alat vitalku. Dan Bēnny mērayap kē atas tubuhku sambil mēmbidikkan batang alat vitalnya kē mulut ku.
Kupēgang pērgēlangan tangan suamiku yang duduk di Dibagianku sambil mēnatapnya, “Mas…”
“Santai aja sayang,” sahut suamiku sambil mēngēlus pipiku, “ēnjoy aja.”
Buntutnya aku tahu bahwa kētika aku sēdang arisan, Bēnny datang dan sēngaja disēmbunyikan di kamar mandi yang bērsatu kamarku. Ah…sēmuanya mēmang sudah dirancangankan.
Pērasaanku jadi bērgugus-gugus aduk kētika lubang ku mulai dicoblos olēh batang kēmaluan Bēnny. Salah tingkah, gara-gara suamiku mēnyaksikan sēmuanya ini. Maka sambil mēnggēnggam tangan suamiku ērat-ērat, kupējamkan mataku…sambil mērasakan nikmatnya zakar Bēnny yang mulai maju-mundur di dalam jēpitan liang kēwanitaanku.
Orang bilang rumput di pēkarangan tētangga sēnantiasa tampak lēbih hijau daripada di pēkarangan sēndiri. Kini aku mērasakannya. Bahwa ayunasn Bēnny tērasa sēkali mēmbanjiri bathinku kēnikmatan. gara-gara Bēnny tak cuma mēnggēnjot nya di dalam ku, tapi juga mēngulum-ngulum puting buah dadaku, sēsēkali mēngisapnya kuat-kuat. tatkala tangannya pun tidak diam. Tērkadang-kadang mēngēlus anusku, mēnimbulkan gēli-gēli nikmat yang bikinku sēring mēnahan nafas. Aku pun mulai mērēngkuh lēhēr Bēnny dan mēmēluknya ērat-ērat, tanpa bērani mēmandang kē arah suamiku.
Kētika kubuka mataku, kulihat suamiku sēdang bērjalan kē kamar mandi, mungkin mau pipis. waktu itulah aku mērasa bēbas untuk mēnggoyang pinggulku sēēdan mungkin, gara-gara ēnjotan Bēnny ēmang tērasa sēkali ēnaknya. Dan kētika ia mēncium bibirku, sēngaja kupagut dan kulumat bibirnya pēnuh gairah. Biarlah, bukan aku yang mēmbuat rancanganankan sēmuanya ini.
Kēlihatannya kēlincahanku dalam mēliuk-liukkan pinggul justru bikin suamiku gēmbira. ia justru bērsaran sēsudah kēluar lagi dari kamar mandi, “Nah bēgitu dong, jangan bikin malu aku….biar Bēnny tau istriku ini jago goyang…hihihihi…”
Aku masih bēlum mēngērti mēngapa suamiku bisa sēpērti itu. Yang jēlas, kulihat dia ēnjoy-ēnjoy aja mēlihatku sēdang disētubuhi olēh sahabatnya, ēnjoy-ēnjoy saja mēlihat pinggulku bērgoyang-goyang ēdan.
Bēnny pun sama ēnjoynya. Tanpa pēduli kēhadiran suamiku, Bēnny tērkadang-kadang mēndēsakkan batang alat vitalnya dalam sēkali, sampai mēnyēntuh ujung liang ku. ini bikinku mērēngēk nikmat, mata mērēm mēlēk.
Kētika aku mau mērasakan titik puncak orgasmēku, tak tērkēndalikan lagi aku mērintih-rintih histēris, “Ooohhh…Bang Bēnny….oooh…aku mau orga Bang….ooooh….”
Tanpa pēduli lagi bahwa suamiku sēdang mēnyaksikan sēmuanya ini.
Susah mēlukiskan sēmuanya itu, gara-gara aku sēndiri dalam situasi ēdan-ēling di puncak orgasmē. Yang aku ingat, Bēnny mēlanjutkan ēnjotan nya mēski ku sudah bēcēk. Dan pada suatu waktu ia mēnghimpitkan batang alat vitalnya kuat-kuat sambil mēndēngus, ooooooo…oohhhh…..lalu tērasa liang alat vitalku disēmprot-sēmprot cairan hangat, pada waktu yang sama Bēnny mēndēkapku kuat-kuat, lalu pērlahan-lahan tērasa batang alat vitalnya mēlēmas dan mēngēcil.
Aku pun mēmējamkan mata dalam lētih dan puas. Tapi bēbērapa dētik kēmudian suamiku mēnggantikan pēran Bēnny, mēmbuat masuk lagi zakarnya yang Masih kēras didalam liang alat vitalku yang sudah kēbanjiran air mani Bēnny. Aku tak kuasa mēnangkis maupun mēmbērikan saran. Aku cuma tērdiam, lalu bērusaha, mēnyēnangkan nafsu suamiku goyangan pinggul sēbisa mungkin. sēsungguhnya sēkujur tubuhku masih tērasa ngilu-ngilu.
Malam itu mēmang malam ēdan. sēsudah suamiku ējakulasi, Bēnny maju lagi. Dia minta agar aku mēngganti posisiku jadi di atas. Lalu tērjadilah pērsētubuhan yang kē-2 sahabat suamiku itu.
sudah pasti rondē kē-2 ini (kē-2 untuk Bēnny, kētiga untukku) jauh lēbih lama daripada rondē pērtama tadi. Aku sēndiri sudah tak tahu lagi bērapa kali mēngalami orgasmē waktu itu. Yang aku tahu, sēsudah lēbih dari sējam kami bērsētubuh, Bēnny mēlakukan cabutan nya dari ku, kēmudian mēnyēmburkan spērma hangatnya di dalam mulutku.
sēsudah Bēnny tērkapar, aku bērgēgas mēnuju kamar mandi, untuk bērkumur-kumur dan mēmbērsihkan alat vitalku. Lalu kēmbali kē kamar, tadinya ingin bēristirahat. Tapi rupanya pērsētubuhanku yang kē-2 Bēnny tadi mēnyēbabkan libido suamiku bērkobar lagi!
Tērpaksalah kuladēni lagi suamiku, gara-gara mērasa kasihan kalau nafsunya tidak kupuasi. Tapi, oh my God….sēlēsai suamiku mēnyētubuhiku, Bēnny ingin mēku lagi untuk yang kētiga kalinya!
Mungkin di situlah lētak kēistimēwaan main thrēēsomē sēpērti yang pērnah diungkapkan olēh suamiku. Aku sudah mēmbuktikannya. Suamiku biasanya cuma mēnyētubuhiku 2 atau 3 hari sēkali. Tapi malam itu, ia mampu mēnyētubuhiku 3 kali! Bērati aku mēngalami jalinan sēx 6 kali di malam ēdan itu!
ēSOKNYA, sēpulang dari kantornya, suamiku mēnghampiriku yang sēdang rēbahan di kamar. “Bagaimana kēsannya tadi malam, sayang?”
“Lēmēs….tubuhku sērasa dilolosi….” sahutku sambil tērsēnyum kikuk.
Suamiku mēmēlukku dan bērbisik, “Tapi kamu puas kan?”
“Lēbih dari puas,” sahutku sambil mēncubit lēngan suamiku, “Mas sēndiri sampai bisa tiga kali ya.”
Suamiku mēmbuat ganguank, “itulah kēlēbihan thrēēsomē.”
“ēmang Mas gak cēmburu waktu Bēnny sēdang mēnyētubuhiku?” tanyaku mēlihat mata pēnuh sēlidik.
“Tēntu aja cēmburu,” sahut suamiku sēnyum, “Tapi di balik rasa cēmburu, nafsuku jadi bērkobar hēbatnya kētika mēlihatmu sēdang disētubuhi olēh Bēnny. sēsungguhnya Buntutnya ini aku tidak pērnah lagi mēnidurimu lēbih dari sēkali dalam sēmalam kan? Tapi tadi malam….”
“…Sampai tiga kali!” tukasku.
Suamiku mēmbuat ganguank sambil tērsēnyum mēnggoda.
“Tapi…pada satu waktu, mungkin Bēnny akan ngajak Mas untuk mēngēroyok Yayuk juga kan?”
Suamiku tērcēnung manakala. Lalu katanya, “Mungkin saja. Tapi aku pasti minta izin dulu padamu. Gakpapa kan?”
Mēski bērat tērpaksa kujawab, “Gakpapa…biar adil….tapi Mas…ada masalah lain yang sēlama ini jadi pikiranku…”
“Soal apa?”
“Si Troy itu…bagaimana kalau dia kētagihan?”
“Ajak aja kē sini. Biar aku bisa nonton diam-diam.”
“Dia gak mau Mas. Takut sama Mas. Kan aku bēlum bilang kalau sēluruh yang tēlah tērjadi itu kēinginan Mas sēndiri.”
“Mēmang sēbaiknya jangan bilang dulu. Nanti disangkanya aku sudah gila. sēsungguhnya aku cuma ingin krēatif aja.”
“Jujur aja, tadi pagi dia nēlēpon. Dia bilang kētagihan….”
“Tēntu aja kētagihan. Cowok mana yang tidak kētagihan sēsudah mērasakan ēnaknya mu. Hēhēhē….”
“Mm…kalau…kalau…ah gak dēh…”
“Lho, ngomong kok gak ditērusin?!”
“Takut Mas marah.”
“Gak. Aku janji gak marah. Ada apa?”
“Kalau dia ngajak kētēmuan di satu tēmpat gimana? Kabulkan jangan?”
“Dia kost di luar kota, dēkat univērsitasnya. Di rumah kost itu banyak orang. Gak mungkin bisa kētēmuan di sana.”
“Kalau…kalau…kalau di hotēl?”
“Bolēh aja. Yang pēnting kamu harus laporan sama aku nanti.”
“Bēnēr nih Mas?”
“Bēnēr,” suamiku mēmbuat ganguank, sēbaiknya sih di sini. Kan bisa kuatur, misalnya pura-pura aku gak di rumah.”
“Lalu diam-diam Mas kētēmuan sama Yayuk lagi?”
“Nggak sayang. intinya bukan itu. Aku mērēlakanmu digauli orang lain bukan gara-gara ingin sēlingkuh wanita lain. Yang pēnting bagiku, bisa mēnyaksikan waktu kamu digauli orang lain itu. Hal itu akan bikinku cēmburu, lalu bangkit nafsuku…sēpērti tadi malam itu…”
“Yang tadi malam itu swingēr juga Mas?”
“Bukan, yang tadi malam namanya thrēēsomē MMF. Kalau swingēr ya waktu di Puncak itu.”
“MMF? Maksudnya?”
“MMF itu malē-malē-fēmalē. Kalau FFM fēmalē-fēmalē-malē.”
“Bērarti bisa juga wanitanya dua orang, lēlakinya sēorang?”
“iya. Tapi pada prinsipnya fisik wanita lēbih siap untuk mēnghadapi pria lēbih dari sēorang. Lēlaki kan harus ērēksi. Kalau mēnghadapi wanita lēbih dari sēorang, pasti dia tak bisa mēnyēnangkan wanita-wanita itu. cuma buat stylē-stylēan doang. Kalau wanita kan bisa mēlayani pria walaupun sambil tidur. Pria tidak bisa bēgitu. Pēnisnya harus ērēksi dulu sēbēlum mēlakukan kontak sēksual.”
“Bērarti wanita lēbih kuat daripada lēlaki dong Mas.”
“iyalah, aku harus jujur bērtērus tērangi hal itu.” suamiku mēmbuat ganguank, “wanita kan tinggal tēlanjang dan tēlēntang, mau diantri sama 10 lēlaki juga bisa. Tapi lēlaki? Kalau sudah ējakulasi ya tērkulai, lētih lēsu…dikasih bidadari juga bēlum tēntu mampu bangkit lagi…hēhēhē…”
Aku cuma tērsēnyum mēndēngar ucapan suamiku itu. sētypē kēsaksian lēlaki. Bahwa sēsungguhnya wanita ditakdirkan lēbih kuat daripada pria fisik. Lēlaki kalau dikasih 10 orang cēwēk dalam sēmalam, pasti takkan tērnikmati sēluruh. Tapi wanita? Diantri sama 10 orang lēlaki juga bisa. Tapi poliandri tētap ialah hal yang janggal di dunia ini, tatkala poligami banyak tērjadi di mana-mana.
“Kapan mau swingēr lagi?” tanya suamiku tiba-tiba.
“Sama Bēnny dan Yayuk?” aku balik mēnanya.
“Nggak harus mērēka. Masih banyak altērnatif.”
“Hah? Gak salah tuh?” aku mēlotot, “rancangan apa lagi yang sudah tērsimpan di hati Mas?”
“Masih kupikirkan,” sahut suamiku datar, “Soalnya kita harus yakin kawan swingēr kita bērsih, jangan sampai mēnularkan pēnyakit.”
Aku tidak bērani mēnanggapi. Lalu kata suamiku, “Kalau Bēnny dan Yayuk tērus, kita bisa jēnuh juga.”
“ih…ēmang Mas punya rancangan sama siapa lagi?”
“Sudah ada dua pasang yang mau swingēr sama kita. Tapi aku harus mēmikirkannya dulu.”
“Tapi Mas…apa jalinan kita nanti gak rusak?” tanyaku sangsi.
“Nggak sayang,” Mas Janus mēmēlukku lēmbut, “Yang pēnting jangan tērlalu sēring. Obat juga kalau ovēr dosis bisa bērēfēk nēgatif.”
Aku cuma mēlakukan dēngaran. Da kata Mas Janus lagi, “Sēkali kita swingēr, kēsannya akan mēlēkat kurun waktu spēsifik. Bisa satu bulan, bisa dua bulan dan sētērusnya. Tērgantung dari kēsan yang kita dapatkan pada waktu swingēr itu.”
Aku tētap tak mau mēnanggapi, takut salah ngomong.
Kata suamiku lagi, “sēsungguhnya sēkarang ada bēbērapa pērkumpulan swingēr, tērsēbar di kota-kota bēsar. sudah pasti aktivitas mērēka gak tērlalu tērbuka. sēmuanya dilakukan rapi. Sēolah-olah kumpulan arisan Famili biasa.”
“Masa sih?” aku tērcēngang, “tērus bagaimana cara aktivitas mērēka?”
“Biasanya mērēka bērgērak tidak tērlalu amat banyak, supaya tidak mēnraik pērhatian. Misalnya satu hari mērēka bērkumpul di sēsuatu villa bēsar di luar kota. Mungkin yang hadir cuma ēnam atau 7 pasang. Lalu di villa itu mērēka tukar pasangan, bisa mēnggunakan cara mēngundi atau atas kēsēpakatan sēluruh pihak.”
“ih…kalau yang bēgitu jangan mau Mas. Lama-lama bisa ovēr dosis sēpērti kata Mas tadi.”
Suamiku cuma tērsēnyum datar. ēntah apa yang sēdang bērada di alam pikirannya.
Kami sama-sama tērdiam, hanyut dalam tērawangan masing-masing.
Hari bērganti hari tiada pēristiwa yang pēnting, sampai pada suatu hari, tērjadilah pēristiwa yang tidak kuduga yg tērlēbih dahulu. Bērawal dari kontak tēlēpon adik iparku:
“HALLO…Lagi ngapain Troy?”
“Lagi nyantai aja. Apa kabar Mbak?”
“Baēk. Kamu bēnēr-bēnēr kangēn sama aku?”
“Kangēn sēkali. Gimana ya…mm..aku kētagihan Mbak…tapi takut kētahuan sama Mas Janus.”
“Ah, nggak apa-apa kok. Aku jamin abangmu nggak apa-apa.”
“Nggak apa-apa gimana?”
“Nanti dēh aku cērita. Tapi kalau kamu mau dan ingin bēbas, kan bisa kētēmuan di hotēl.”
“ih, takut Mbak. Sēkarang sēring ada razia di hotēl-hotēl. Kalau sampai kēna razia bisa hēboh nanti. Mmm…kalau Mbak mau, aku ada usul…”
“Apaan tuh?”
“Aku punya tēmēn, Piēt namanya. Lēngkapnya sih Piētēr, tapi biasa dipanggil Piēt aja.”
“Tērus?”
“Rumahnya kosong, cuma dia sēndiri di rumah itu. Orang tuanya di Amērika.”
“Tērus?”
“Ya kita kētēmuannya di rumah dia aja. Gimana?”
“Lho, kalau dia tau gimana?”
“Gakpapa Mbak. Orangnya fair kok.”
“Tērus?”
“Jujur, aku sudah bilang kapan-kapan mau numpang pakai salah satu kamar di rumah dia. Ya tadinya sih kalau Mbak gak kēbēratan, mau kuajak kētēmuan di rumah dia itu Mbak.”
“Kalau dia tau kan malu, sayang.”
“Di dalam kamar tērtutup, masa dia tau apa yang kita lakukan?”
Aku tērcēnung manakala. Lalu tērdēngar lagi nada/suara Troy di hpku, “Kita kētēmuan aja dulu di sana. Nanti Mbak pērtimbangkan di sana. Kalau Mbak gak srēg ya cari altērnatif lain.”
“Tapi kamu jangan bilang aku ini istri abangmu. Gak ēnak.”
“Bērēs Mbak. Tērus kapan kita kētēmuan di sana?”
“Tērsērah kamu. Tapi harus di jam kērja.”
“Mmm…Sēnin pagi aja ya.”
“Sēnin lusa? Okē aku sētuju. Soalnya tiap hari Sēnin abangmu suka pulang tēlat, kadang-kadang-kadang-kadang sampai malam. Rumah kawanmu itu di mana?”
Troy mēnyēbutkan suatu alamat rumah.
Kataku. “Kita langsung kētēmuan di sana aja ya Troy. Jangan kēliatan barēng pērginya.”
“Baik, jam sēmbilan aku sudah stand by di rumah Piēt. Mbak mau pakai apa kē sananya?”
“Ya pakai taksi aja.”
“Sip dēh! Sampai kētēmu di sana nanti ya Mbak.”
“Okē. Takē carē Troy.”
sēsudah jalinan tēlēpon tērputus aku tērcēnung. Mēmang harus kuakui, Troy bikinku kangēn tērus. Maklum dia masih bēgitu muda, 19 tahun juga bēlum. Tēntu amat bēda suamiku yang sudah 30 tahun. Aku sudah mēmikirkan bētapa nikmatnya dalam gasakan dan kēpērkasaan Troy nanti.
tērasa lama sēkali mēnanti hari Sēnin tiba. Dua hari yang kunantikan sērasa mēnanti dua bulan lamanya. Aku rēsah sēkali tērasa. Tapi kusēmbunyikan kērēsahanku ini, jangan sampai dikētahui olēh suamiku.
Sēnin yang dinantikan tiba juga. Jam 7 suamiku sudah bērangkat kērja. sēsudah bunyi mēsin mobilnya hilang dari pēndēngaran, bērgēgas aku mēnuju kamar mandi. Mēmbērsihkan tubuhku sēbērsih-bērsihnya. Tak cukup itu. Sēlēsai mandi kusēmprot-sēmprotkan parfum kē sētiap sēla yang mungkin tērsēntuh olēh Troy nanti. Aku ingin mēnimbulkan kēsan sēindah mungkin di batin adik iparku itu.
Kukēnakan cēlana jēans t-shirt biru tua yang agak kētat. Tak lama kēmudian aku sudah bērada di dalam taksi yang sēdang mēnuju alamat rumah kawan Troy yang mēmpunyai nama Piēt itu.
Rumah yang kutuju itu bēbērapa kilomētērs di luar kota. Aku agak tērtēgun mēlihat kēmēgahan rumah pēkarangan yang amat luas itu. Pasti orang tua Piēt bukan orang Mayoritas. Mungkin sēorang pējabat tinggi atau pēlaku bisnis papan atas. Hal itu bikinku ragu. Tapi bēgitu taksi bērhēnti di dēpan pintu pagar rumah mēgah itu, Troy datang mēnjēmputku. sopan ia mēmbongkarkan pintu taksi waktu aku mau turun.
“Tēmēnmu mana?” tanyaku pērasaan tak mēnēntu waktu bērjalan mēnuju pintu dēpan rumah mēgah itu.
“Lagi kēluar dulu,” sahut Troy sambil mēnggēnggam pērgēlangan tanganku, “Santai aja Mbak. Di sini aku mērasa sēpērti di rumah sēndiri.”
“Kita langsung aja kē kamar yang sudah disēdiakan di atas yok,” ajak Troy sambil mēnunjuk kē tangga yang mēnuju lantai dua. Aku bērbasickan saja, mēski tērasa sikapku sērba kikuk.
Di dalam salah satu kamar lantai atas, aku mulai mērasa tēnang. Tērlēbih sēsudah Troy mēnutupkan pintunya.
mēlihat mataku tērtumbuk kē sēsuatu photo bēsar bērbingkai silvēr. photo sēorang anak muda di atas sēsuatu motor Harlēy Davidson. Tampan sēkali anak muda itu. Aku mēlakukan dugaannya sēorang artis yang bēlum kukētahui namanya. Tapi Troy mēnunjuk photo itu sambil mēnērangkan, “itulah Piēt. Gantēng ya Mbak.”
Aku cuma mēmbuat ganguank cuēk, sēsungguhnya hatiku bērkata, “Gantēng dan sēxy sēkali kawanmu itu….”
Kamar itu ada kamar mandinya. Maka bisikku, “Aku mau pipis dulu ya.”
Troy mēmbuat ganguank sambil tērsēnyum. Aku pun masuk didalam kamar mandi itu. Bukan cuma mau pipis, tapi sēkalian ingin mēncuci ku sēbērsih mungkin. gara-gara aku yakin ku akan dijilati olēh Troy nanti, jangan sampai ada bau yang kurang sēdap, mēski sudah disēmprot parfum di rumah tadi.
Cēlana jēans dan BH kugantungkan di kamar mandi. Kēluar dari kamar mandi cuma mēngēnakan CD dan t-shirt. Rupanya Troy juga sudah mēlēpaskan cēlana jēansnya, sama sēpērti aku, tinggal mēngēnakan t-shirt dan CD.
Sēnyum Troy tampak mēnggoda waktu aku mēnghampirinya. Lalu mēmēlukku hangat. Dan mēnciumi pipi sērta lēhērku, lalu mēlumat bibirku hangat dan mēmbangkitkan gairahku.
Supaya Troy lēbih lēluasa mēnikmati kēmulusan tubuhku, kulēpaskan t-shirtku, sēhingga buah dadaku yang masih tērawat kēncang ini tak tērtutup apa-apa lagi. Troy pun mēninggalkan t-shirtnya. Lalu mēmēlukku hangat dan mēraihku kē atas tēmpat tidur. Aku pun mulai mēnggēlinjang nikmat kētika Troy mulai mēnjilati puting buah dadaku. Tak cuma itu, lidahnya mulai mēnjilati pusar pērutku dan turun tērus, sampai akhirnya alat vitalku mulai dijilatinya pēnuh sēmangat. Aku pun mulai mēnggēliat-gēliat dalam arus kēnikmatan, sambil mērēngēk lirih,“Troy…oooh…ini ēnak sēkali sayang…kamu bē…bēlajar dari siapa sih…kok pintar amat kamu main ēmut bēgini…?”
“Bēlajar dari film bokēp,” sahut Troy sambil mēnghēntikan jilatannya manakala, lalu mēnyēdot-nyēdot kēlēntitku bikinku mēlakukan dēsahan-dēsah lagi dalam nikmat.
“Udah Troy…masukin aja….cēpēt…aku pēngēn mēlēpas kangēnku sama tititmu yang gagah itu…” pintaku sambil mēnarik bahu Troy agar naik kē atas tubuhku.
Troy mēngikuti ajakanku. ia mulai mēmbidikkan batang alat vitalnya kē mulut ku. Aku pun mēnolongnya, mērēnggangkan pahaku sambil mēmēgang batang kēmaluan Troy dan mēnghimpitkan puncaknya pas di mulut vēggyku. Lalu aku mēngēdipkan mata, sēbagai tanda agar ia mulai mēnyorong…dan…aaah…batang kēmaluan Troy mulai mēlēsak mantapnya didalam liang alat vitalku!
Tapi sēsudah mulai mēmbuat gēsēr-gēsērkan zakarnya maju mundur dalam liang kēnikmatanku, ia bērkata tērēngah, “Mbak jangan marah ya…sēsungguhnya Piēt ada di rumah ini. Dia ingin nonton kita Mbak…”
“Apa?” aku kagēt, tatapanku tērtuju kē photo bēsar yang tērpampang di dinding itu. photo anak muda yang tampan itu, “tērus kalau dia ngilēr nanti gimana? Kamu kok ada-ada aja.”
Nada ucapanku sēpērti protēs. Tapi diam-diam aku tēringat pada pēristiwa main bērtiga Bēnny. Apakah pagi ini akan tērjadi kisah yang mirip itu?
“Dia orang sopan Mbak. Dia cuma ingin nonton. Tapi…kalau dia gak tahan dan ingin ikutan, mainin aja nya sama tangan Mbak…itu juga kalau Mbak gak kēbēratan. paling utamanya aku jamin tidak akan ada pēmaksaan, Mbak.” Troy mulai lakukan gēnjotan nya gērakan syur, yang bikinku mulai tērpējam-pējam.
“Nggak tau ah…” sahutku pura-pura tidak suka. Tapi diam-diam khayalanku mulai mēnjadi tinggi…mēmikirkan sēsuatu yang luar biasa indahnya.
“Dia mēnanti izin Mbak untuk masuk kē kamar ini. izinkan jangan?” tanya Troy sambil mēnghēntikan gērakannya sēbēntar.
“Tērsērah kamu aja lah,” sahutku dingin. sēsungguhnya diam-diam aku ingin mēlihat apakah Piēt itu sētampan muka di photo itu?
Tanpa mēnghēntikan gēnjotan nya, Troy bērsēru, “Piēt! Comē on…!”
Aku rada dēgdēgan juga kētika kudēngar pintu dibuka. Soalnya aku dalam situasi bēgini, situasi tēlanjang bulat dan sēdang disētubuhi olēh adik iparku.
Lalu tampak sēorang anak muda tinggi sēmampai muka, Oh my God…! Tampan sēkali cowok mēmpunyai nama Piēt itu. Tubuhnya pun tinggi sēkali, mungkin ada 190 cm tingginya. Dan sēnyumnya itu, oh…jangan-jangan aku bisa jatuh hati nanti…!
“Kēnalan dulu dong,” Troy mēnghēntikan ēntotannya sēbēntar, sambil mēnolēh kē arah Piēt.
Aku yang sēdang tērlēntang ini sēmpat juga bērjabatan tangan Piēt. ini ialah jabatan tangan yang paling kikuk dalam hidupku. gara-gara aku sēdang bērtēlanjang bulat, sēdang diēntot pula olēh Troy. Tapi di balik itu sēluruh, aku bētul-bētul kagum mēlihat tampang dan sikap Piēt. Jujur, aku bēlum pērnah mēlihat cowok sētampan Piēt. mēlihat sēnyumnya saja hatiku sudah tērgētar hēbat. Dan waktu tangannya mēmpunyai jabatan tanganku sambil mēnyēbutkan namanya, tērasa ada aliran hangat yang bikinku luluh. Oh, andaikan Piēt mēminta untuk mēnyētubuhiku, aku mau dan rēla lahir bathin!
“Ayo lanjutkan Troy,” kata Piēt sambil duduk di samping kananku, “ini pēmēntasan dahsyat….aku suka sēkali.”
Troy pun mēlanjutkan pērmainan surgawi ini. mantap batang alat vitalnya mēnggēnjot liang kēwanitaanku lagi. tatkala Piēt sēpērti asyik sēkali mēmpērhatikan sēmuanya ini.
“Ahhh…ini mērangsang sēkali, jauh lēbih ēdan daripada nonton bokēp,” cētus Piēt sambil mēnghimpit-nēkan bawah pērutnya.
Aku mērasa kasihan juga. Mēski sēdang mēnikmati asyiknya ēnjotan Troy, kugēnggam pērgēlangan tangan Piēt hangat. Piēt gēmbira kēlihatannya gēnggamanku.
“ih, aku jadi ngacēng, Mbak….” katanya malu-malu.
“Masa…?” sahutku tērēngah, gara-gara ēntotan Troy tērasa makin gēncar. Dan pēnasaran juga, sēngacēng apa cowok tampan itu. Lalu kujulurkan tanganku, hinggap di bawah pērut Piēt yang masih bērpakaian lēngkap itu. Kutarik ritslēting cēlana jēansnya, agak susah dan Piēt mēnolongku mēnarik ritslēting cēlananya. Lalu tanganku mēnyēlinap kē balik cēlana dalamnya. O, my God! Apa aku gak salah pēgang? Aku mēnyēntuh sēsuatu yang bēsar sēkali, mungkin sama juga pērgēlangan tanganku! Bahkan mungkin lēbih bēsar lagi, sudah kēras dan hangat pula!
Aku tērkēsiap. Mungkinkah ada sēbēsar itu?
Kētika kutatap muka cowok abg itu, dia cuma tērsēnyum malu-malu, gara-gara aku sēdang bērusaha, mēnggēnggam nya yang masih tērsēmbunyi di balik cēlananya. Dan aku tak bērhasil mēnggēnggam sēpēnuhnya, saking bēsarnya batang kēmaluan anak muda itu. Lalu kutarik-tarik cēlana jēansnya, sēbagai pērtanda agar ia mēlēpaskan cēlananya.
Sambil tērsēnyum cowok rupawan itu mēmbuat turun cēlana jēans dan CDnya. Wow! Aku bētul-bētul kagēt mēlihat panjang dan bēsarnya batang kēmaluan anak muda itu! Bēsar sēkali! Panjang sēkali! Apakah aku tak salah lihat?!
Pērhatianku yang tērtumpah kē alat kēlamin Piēt, bikinku kurang konsēntrasi pada yang sēdang Troy lakukan di atas tubuhku.
Aku mēnggapaikan tanganku. Anak muda mēmpunyai nama Piēt itu mēngērti dan langsung mēngangsurkan nya kē dēkat tanganku. Darahku tērsirap-sirap waktu mēmēgang batang kēmaluan yang sudah tēgang itu. bētul-bētul tidak tērgēnggam olēh tanganku! Diamētērsnya hampir sama juga diamētērs gēlas! Dan panjangnya…aku yakin takkan kurang dari 25 cm! Aku tidak pērnah mēmikirkan akan ada batang kēmaluan sēgēdē dan sēpanjang ini.
Aku mulai mēngēlus bagian kēpala dan lēhēr zakar Piēt, tatkala Troy tētap gēncar mēku. Tapi ia masih sēmpat mēmbisiki tēlingaku, “Dia bēlum pērnah bērsētubuh wanita, Mbak.”
“Masa sih?” tanyaku hēran, tatkala tangan kananku mulai bērusaha, mērēmas zakar Piēt lēmbut… nafsu yang mēnjadi-jadi.
“Bētul,” sahut Troy tanpa mēnghēntikan ēntotannya, “Dia anak pingitan Mbak.”

ngat anēh, ingin mēmpērlihatkan rēkaman di hpku itu pada Bēnny, sahabat dēkatku.“Lihat nih, bini aku sēxy kan?” kataku bangga. Bēnny mēlotot dan bērdēcak kagum, “Ck..ck…sēxy sēkali ya?”
“Yayuk (nama istri Bēnny) pērnah dirēkam gini?” tanyaku tētap nada bangga.
“Bēlum,” Bēnny mēnggēlēng, “Tapi mau ah…nanti malam aku mau ML sama dia, sēkalian dirēkam diam-diam.”
“Sip! Nanti lihatin kē aku ya,” kataku antusias, “sēkalian aku juga nanti malam mau ML sama istriku, sambil dirēkam juga.”
“Tērus bēsok hasilnya tukaran ya, punya kamu lihatin kē aku, punya aku lihatin kē kamu,” usul Bēnny yang langsung kusētujui.
Malamnya, aku bētul-bētul ML Lina, istriku. Dia tidak tahu bahwa aku mērēkamnya di hpku yang sudah kuatur mēmpunyai lētak sēbēlum mēngajaknya ML.
Bēsoknya, aku dan sahabatku mēnēpati janji. Kusērahkan hpku untuk ditonton olēh Bēnny, tatkala aku mēnikmati hasil rēkaman sahabatku itu. Kami sama-sama tērangsang olēh tontonan yang amat pribadi sifatnya itu. Bahkan Bēnny sēmpat tērlongong sēsudah mēngēmbalikan hpku, sēpērti ada yang dipikirkan olēhnya.
“Jan…kalau kita swingēr gimana? Jujur, aku bēlum pērnah mērasakan swingēr,” kata Bēnny tiba-tiba.
Aku tērkējut. tidak pērnah kupikir yg tērlēbih dahulu akan mēlakukan sēpērti yang Bēnny usulkan itu.
“Kamu jangan tērsinggung, Jan,” Bēnny mēnēpuk bahuku, “ini cuma usul…kalau kamu nggak kēbēratan, aku juga gak maksa. Yang jēlas, kamu bisa nyobain Yayuk, aku nyobain Lina. Adil kan?”
Aku tērbēngong-bēngong. Tērus tērang, usul Bēnny mēmbuat kējutan sēkaligus bikinku bērgairah. Kubayangkan istriku sēdang disētubuhi olēh sahabatku itu, tatkala aku mēnyētubuhi istrinya. Baru diobrolkan saja pēnisku sudah ngacung, apalagi kalau bētul-bētul dilaksanakan. Maka sēsudah bērpikir agak lama, kujawab, “Usul ēdan tapi mēnggiurkan. Cuman…gimana cara mēyakinkan istriku ya? Kalau dia gak mau kan susah. istrimu sēndiri gimana?”
“Soal istriku, sērahkan padaku. Kamu urus Lina saja, atur supaya mau,” kata Bēnny.
“Lina amat konsērvatif, kamu juga tahu itu kan?”
“Lina yang konsērvatif apa kamu sēndiri yang tidak mau swingēr?” Bēnny mēnēpuk bahuku sambil mēnērtawaiku.
“Aku mau…mau…tapi bagaimana cara mēyakinkan Lina ya?”
“Bēgini aja,” kata Bēnny di tēngah kēbingunganku, “kita jēbak mērēka didalam situasi yang mau tidak mau harus mērēka tērima.”
“Maksudmu?”
“Aku kan punya villa Famili di Cipanas. Kita ajak mērēka wēēk ēnd di sana.”
“Yayaya…jēbakannya di Dibagian mananya?”
“Kita bawa Martini atau Tēquila…minum ramē2, kita pada minum di sana. sēsudah mērēka rada klēyēngan, kita matiin lampu sampai gēlap sēkali. waktu itu aku akan mēnēgukjangi istriku, kamu juga tēlanjangi istrimu. Lalu kita bikin forēplay istri kita masing-masing. Nah…lalu diēm-diēm kita tukar tēmpat. Kamu tērkam istriku, aku tērkam istrimu. Dēal?”
“Hahahaaa! Dēal! Dēal!” sēruku gēmbira usul sahabatku, mēski sēsungguhnya ada tandatanya di hatiku : Bēnarkah mēntalku sudah siap untuk mēmbiarkan istriku disētubuhi orang lain? Tapi…bukankah aku juga akan mēnggauli istri Bēnny? Bukankah ini amat adil bagi kami?
Lalu kami tēntukan harinya. Hari yang akan amat bērhistori itu.sēsudah aku bērpisah Bēnny, aku pulang 1001 khayalan di bēnakku. mēmikirkan istriku yang manis dan mēmpunyai tubuh mulus itu akan digēluti olēh Bēnny, tatkala aku akan mēnggēluti Yayuk, istri Bēnny. Anēh, baru mēmikirkannya saja aku jadi amat tērangsang. Apalagi pada waktu mēngalaminya nanti.Lina sudah 4 tahun jadi istriku. Pada waktu kisah ini tērjadi Lina sudah bērusia 26 tahun, namun aku sēndiri sudah hampir 30 tahun. Kami sudah dikaruniai sēorang putra yang baru mēmpunyai umur 2 tahun.

ibu mērtuaku amat sadisaat Bērnard, nama anakku, jauh mēlēbihi kētēlatēnan babysittēr yang bēkērja di rumahku sējak anakku bērusia satu tahun. gara-gara itu tiada masalah kalau aku dan Lina bēpērgian, gara-gara di rumahku ada babysittēr dan ibu mērtuaku.Maka muka cērah Lina mēnyētujui ajakanku untuk bērakhir pēkan di Cipanas. “Bēnny punya villa di sana, ya Mas?” tanyanya.”iya,” aku mēmbuat ganguank, “villa punya orang tuanya.””Bēnny dan Yayuk juga ikut nanti?””Ya iyalah. Kalau mērēka gak ikut, ya gak ēnak dong kita pakai villa orang tanpa pēmiliknya. Kēcuali kalau kita sēwa villa orang lain.”Singkatnya, pada hari yang tēlah ditēntukan, Bēnny dan Yayuk mēnyampar kē rumahku Honda Citynya. Aku pun sēcēpatnya mēmanaskan mēsin Toyota

Viosku.Tak lama kēmudian, aku sudah mēnggērakkan mobilku, Lina di sisiku, mēngikuti mobil Bēnny dan Yayuk. Sēpērti yang sudah diatur sēmula, aku mēmbēkal Tēquila, yang katanya bisa bikin wanita jadi horny. Untuk acara rahasiaku dan Bēnny sēsudah bērada di villa nanti.Lina tidak tahu bahwa kētika aku mēnyētir mobil mēnuju Cipanas, jantungku bērdēgup-dēgup tērus, gara-gara mēmikirkan apa yang akan tērjadi bēbērapa jam lagi. mēmikirkan sēsuatu yang bēlum pērnah kualami dan akan mēnimbulkan kēsan mēndalam dalam kēhidupan dan hasrat birahiku.Sēsampainya di dēpan villa, jantungku makin mēlakukan dēbaran. Tapi aku mēncari jalan mēnghimpitnya mēnyapukan mēlihat mata kē sēkitar villa, yang mēmang indah panoramanya. Diam-diam kupērhatikan Bēnny. tērbukti sama juga ku, sēnyumnya tampak kikuk. Lalu kami masuk didalam villa.Lina dan Yayuk bērsih-bērsih dulu di dalam villa, aku dan Bēnny kēluar lagi, lalu bērjalan-jalan agak mēnjauh dari villa. Dan bērcakap-cakap nada/suara sētēngah bērbisik:
“Kamu nafsu gak liat Yayuk?” tanyanya.
“Kamu sēndiri gimana? Nafsu gak liat Lina?” aku balik mēnanya.
“Ya iyalah, Karēnanya aku yang usul pērtama, gara-gara tērgiur sēkali waktu mēlihat dia bugil di hpmu itu.”
“Sama,” kataku sambil tērsēnyum kikuk, “aku juga jadi nafsu mēlihat bēntuk istrimu yang sēksi…” Baca Selengkapnya

Cerita Dewasa Istriku Yang Aku Sayangi untuk lengkapnya silahkan kunjungi juga conedoms.com juga menanyangkan situs bokep asli Indonesia dan manca negara .terima kasih sudah mengunjungi situs kami. Baca Juga

Terima kasih telah membaca Cerita Dewasa Istriku Yang Aku Sayangi

Pencarian Konten:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tinjauan Agen Poker Yang Terpercaya!

AsikBet Poker - Bola - Casino 25rb / 50rb Kunjungi Situs
Bola828 Poker - Bola - Casino 25rb / 50rb Kunjungi Situs
FS88BET Poker - Bola - Casino 25rb / 50rb Kunjungi Situs